let’s daydream!

Well, setelah beberapa waktu terakhir bergulat dengan luka masa lalu (dan alhamdulillah sembuh juga :D -Segala Puji bagi Allah yang Maha Penyembuh), sudah waktunya gue menulis sesuatu yang lebih prospektif!

Berawal dari iseng-iseng surfing ke blog temen-temen lama, dan menyadari bahwa selama ini temen-temen gue keren-keren! Di usia yang sama dengan gue, pencapaian mereka begitu luar biasa. Ada yang lagi sekolah di Harvard, kerja di perusahaan besar di Jepang, bikin banyak riset (dan dipublikasikan), dll. Kereeeeen. Sementara gue? Belum punya karya apa-apa.. Masih hobi tidur dan main sama udin si kucing piaraan. *garuk-garuk tanah* Blog gue juga kebanyakan isinya…ga penting, bukan sesuatu yang bermanfaat buat orang banyak. Yassalaaam. Kaya ada telapak tangan tak kasat mata menampar-nampar pipi gue.

Memang sih, karir setiap profesi punya lika-liku yang berbeda. Karir medik dan nonmedik tentu ga bisa disamakan. Tapi tetep aja, gue merasa belum berbuat banyak. Masih menghabiskan waktu untuk hal yang kurang berguna. Masih belum tekun. Masih suka bermalas-malasan. Masih suka menunda-nunda pekerjaan. Masih lebih memilih jalan yang mudah dan datar-datar aja, dan enggan menempuh jalan mendaki. Padahal katanya, “When you find yourself climbing, you’re on the right track.”

Maka dari itu, meski ini bukan lagi tahun baru, tapi gapapa yaaa bikin resolusi, hehehe. Ada hal-hal yang gue harap bisa gue capai di tahun ini, ada juga mimpi-mimpi konyol yang gue harap bisa gue capai suatu saat nanti, meski entah kapan. Semoga bisa jadi penyemangat untuk terus bergerak, sekaligus jadi pengingat, kalau sewaktu-waktu gue lupa pernah punya mimpi-mimpi untuk diwujudkan.

Resolusi 2014:

1. Memanfaatkan sisa masa bakti sebagai dokter PTT dengan sebaik-baiknya.
Saat ini gue sedang mengabdikan diri di sebuah daerah perifer di Kalimantan Barat. Insya Allah pada akhir bulan Mei 2014, masa bakti gue selesai. Hmm, tentang lika-liku perjalanan 1 tahun gue PTT di sini, akan gue bikin tulisan terpisah :) . Tapi pada intinya, 3 bulan terakhir gue di sini, mudah-mudahan kehadiran gue bisa memberikan manfaat yang sebesar-besarnya, lebih besar daripada 9 bulan pertama. Gue ingin, ketika gue selesai PTT di sini, gue puas dan lega, karena sudah melakukan pelayanan yang terbaik.

2. Sekolah lagi.
Sepulang PTT, Insya Allah gue akan mendaftar spesialis. Mudah-mudahan segala sesuatunya berjalan lancar.. Mohon doanya ya :)

3. Lancar nyetir mobil!
Ya Tuhaan, skill ini dari dulu ga pernah bener-bener gue kuasai, alias cuma setengah bisa. Salah gue juga sih, suka males-malesan kalo disuruh nyetir. Belum berasa pentingnya soalnya, hehe, kebiasaan dianterin bokap ke mana-mana atau nebeng temen. Sekarang, setelah bokap udah makin sepuh dan rasanya udah ga pantes lagi anak gadis usia 25 minta dianter ke mana-mana (bahkan bokap gue suka nganter dan nungguin gue hair spa loh :D ), dan temen-temen yang biasa ditebengin juga udah pada married, sementara punya kemampuan mobilitas itu adalah mutlak, kayanya emang harus maksain diri bisa nyetir…biarpun jujur aja, kemampuan visuospasial gue minusssss banget, dan kalo gue sampai bisa nyetir dan bisa tau arah ato inget jalan, pasti itu…keajaiban.

Selain hal-hal yang ingin gue capai di 2014, ada juga beberapa hal lain yang gue impikan bisa terwujud, at least once in my lifetime. Some of them are…ehm, ridiculous, though. :D

1. Salah satu mimpi konyol gue: pengen nulis buku! Buahahahaha.
Sejak kecil gue senang dengan pelajaran bahasa dan juga senang menulis. Waktu masih SD, di saat temen-temen gue mengeluh kalo guru ngasih tugas mengarang bebas, gue justru sebaliknya. Gue malah enjoy, menumpahkan ide-ide di kepala gue lewat tulisan. Saat SMP, gue mulai suka membuat cerpen-cerpen. Pernah juga gue iseng ngirim cerpen ke salah satu majalah remaja. Tapi, tentu aja, ga dimuat, haha.
Ketika gue kuliah, gue mulai bikin blog pribadi dan menyalurkan hobi menulis gue di sana. Gue paling seneng saat menulis metafora. Tapi yah gitu deh, gue ga produktif juga nulisnya. Jadinya kebanyakan isi blog gue malah tulisan-tulisan ga jelas, haha.
Well, sejauh ini gue ga pernah serius sih menggeluti dunia tulis-menulis. Cuma sebatas hobi aja. Writing makes me happy. That’s all. :D

2. Melihat dunia.
Pengeeeeen banget, at least once in my lifetime, merasakan yang namanya tinggal di negeri orang. Bukan menjadi turis yang singgah sejenak, foto-foto buat diunggah di socmed, belanja, lalu pulang. Melainkan tinggal cukup lama, berinteraksi dengan penduduk lokal, belajar bahasa dan budaya setempat langsung dari penduduknya.. Gue yakin dari sana akan ada banyak sekali pelajaran kehidupan yang bisa dipetik. Gue percaya bahwa kebijaksanaan didapat dari wawasan dan pengalaman yang luas, serta pemikiran yang terbuka. Adopsi nilai-nilai yang baik, dan tinggalkan yang buruk.

3. Building a great family.
I know I’ve been a…ehm, single, for couple of months, so me talking about this seems…inappropriate, haha. But, I have my own imagination of what kind of family I wanna build…one day.
Gue melihat orang-orang Indonesia itu banyak tertarik dan menghabiskan waktu, uang, ataupun perhatian pada hal-hal yang honestly…ga penting. Contoh sederhananya, kita berlomba-lomba beli smartphone, yang ujung-ujungnya socmed lagi socmed lagi yang dibuka. Menghabiskan waktu ga jelas melihat status orang-orang, foto-foto, dll. Padahal waktu adalah aset yang paling berharga. Sementara niscaya, bahwa kalo kita ga sibuk dengan hal-hal bermanfaat, pasti kita sibuk dengan hal-hal ga bermanfaat. Contoh lain, kita juga merasa memiliki prestige saat makan di resto mewah, foto bersama makanan yang harganya selangit (padahal worth it banget ga, sehat juga ga), lalu diunggah di socmed. Sorry to say, tapi buat gue, kita semua selama ini kebanyakan gaya, dan itu memuakkan dilakukan oleh bangsa yang masih bergulat dengan kemiskinan dan kebodohan seperti kita. Masyarakat kita rupanya belum punya karakter yang kuat, silau dengan hal-hal tersier, dan justru sering lupa dengan hal-hal primer. Padahal seharusnya, bangsa kita menyibukkan diri dengan giat belajar, bekerja, dan berkarya.
Jadi, jika suatu saat nanti berkeluarga, gue harap gue dan suami (jangan tanya siapa :D ) bisa kompak bekerja sama membangun sebuah keluarga dengan karakter yang kuat, keluarga yang hanya (bersedia) disibukkan dengan hal-hal yang baik dan bermanfaat. Gue ingin keluarga gue nanti, lebih memilih untuk membeli buku baru ketimbang membeli baju atau sepatu baru, lebih memilih untuk belajar bahasa, musik, atau apapun yang lebih jelas manfaatnya ketimbang nongkrong ga jelas, lebih bangga makan masakan gue (yang mudah-mudahan aja enak :D ) ketimbang makan makanan resto, lebih memilih menghabiskan minggu pagi dengan berlarian di taman atau bersepeda ketimbang guling-guling malas-malasan di depan TV. Gue juga berharap anak-anak gue nanti terbiasa mengemban tanggung jawab sejak dini, karena saat dewasa kelak, mau ga mau pundaknya harus kuat terhadap beban. Terbiasa terlibat dalam berbagai urusan sejak dini, karena semakin banyak wawasan dan pengalaman, semakin baik decision-making seseorang. Terbiasa hidup ga serba mudah, karena mau ga mau, keberhasilan seseorang tergantung daya tahan dan ketabahannya. Juga, terlatih untuk punya banyak keterampilan, karena seberapa bermanfaat dirinya yang menjadikan berkah kehadirannya.
Gue ingin membangun keluarga yang bukan hanya sekedar menambah populasi atau menuh-menuhin negara tanpa memberi sumbangsih apa-apa. Tapi sebuah keluarga yang kuat dan menguatkan sekelilingnya, keluarga yang memberi nilai guna untuk banyak orang, keluarga yang sejak awal sadar bahwa hidup adalah perjuangan sementara untuk istirahat yang kekal di negeri akhirat, bahwa hidup di dunia semata-mata untuk beribadah dan mengumpulkan bekal sebanyak-banyaknya, agar kelak bisa berkumpul kembali bersama-sama di surga-Nya, selamanya.
Tapi, tentu aja, pertama-tama gue harus jadi orang tua yang oke dulu :D sosok yang bisa dijadikan teladan oleh anak-anak gue. Bismillaaah, mudah-mudahan bisa!

Well, those are my dreams :D . What are yours?

Mudah-mudahan Allah memberi kita kesempatan dan kekuatan untuk bisa memeluk mimpi-mimpi kita. Amin amin amiin.

“If your dreams do not scare you, they are not big enough.” ;)

ketika luka berbahasa

Satu luka mampu mengisahkan sejuta cerita. Tapi siapakah mereka sampai kamu bersedia menceritakannya? Siapa pula kamu sampai-sampai lukamu menjadi penting untuk mereka tahu? Luka orang lain saja, yang kebetulan kamu ketahui, akan kamu bawa mati, apalagi lukamu sendiri?

Menganggap luka kita lebih dalam daripada luka orang lain itu tak pantas. Setiap orang memiliki lukanya masing-masing. Hanya saja kita tak memiliki kemampuan untuk melihatnya. Jadi, selalu hormati orang lain. Kamu tak pernah tahu sudah sepayah apa ia berjuang, dan pernah sesekarat apa ia.

Luka-lah yang mendewasakan seseorang. Menjadikan ia lebih kuat dan tegar. Menjadikan ia lebih sanggup untuk menghadapi berbagai tantangan di masa depan. Manusia ditakdirkan untuk belajar lebih banyak dari luka dan kegagalan, bukan dari tawa dan kesenangan.

Tapi luka juga melahirkan trauma. Membentuk seseorang menjadi pribadi yang seolah mati rasa. Yang menatap hidup dengan dingin tanpa riak emosi. Tidak selalu. Tapi bisa jadi.

Luka juga yang menjadikan seseorang lebih waspada dan tak mudah percaya. Ia tahu, keselamatannya murni tanggung jawabnya pribadi; tak ada satupun orang yang mampu melindunginya. Sekalipun ada yang benar-benar berusaha melindunginya, takkan menjamin selamanya ia bebas dari luka. Tapi setidaknya, kini ia belajar membedakan mana yang melukainya dengan sengaja, dan mana yang melukainya, semata karena keterbatasannya sebagai manusia.

Maka seseorang yang pernah benar-benar terluka, tak akan pernah lagi berteduh pada siapa-siapa. Hanya ada dia dan Yang Maha Kuasa.

Tapi bagaimanapun juga, kita harus hidup dengan proporsional. Menjadi getir sesudah terluka, adalah manusiawi. Tapi jauh lebih baik, bila luka mampu menjadikanmu lebih tegar tanpa perlu menjadi seorang yang getir.

Di antara semua luka, tidak ada yang lebih menyakitkan daripada luka yang kamu buat sendiri. Untuk pulih, perlu dialog yang panjang dengan diri sendiri, perlu jiwa yang bebas dari gaduh-gelisah. Dan tentu saja, perlu waktu, untukmu memaafkan dirimu sendiri. Karena pernah melakukan sesuatu yang salah, berjuang di medan perang yang salah, menghabiskan waktu pada hal yang salah. Karena, entah mengapa, pernah menjadi seseorang yang begitu bodoh.

Tapi luka bukan untuk dipikirkan apalagi diratapi berlebihan. Karena sampai kapanpun juga, kamu tak akan bisa melepaskan diri dari luka, sekencang apapun kamu berlari. Selamanya ia melekat erat pada dirimu, menyatu sebagai salah satu elemen pembentuk atas siapa kamu hari ini. Luka juga yang membuat kita menjadi pribadi yang lebih arif kepada sesama manusia.

Jangan didik dirimu untuk tak pernah jatuh. Tapi didiklah dirimu untuk selalu bangkit. Jatuhlah seratus kali, asalkan bangkit seratus satu kali.

Terakhir. Kamu tak pernah benar-benar mengenal seseorang, sampai kamu mengerti kisah mengenai lukanya. Dan kamu tak benar-benar menyayangi seseorang, sebelum kamu mampu menghormati lukanya. Tentang bagaimana ia mendapatkannya, dan bagaimana ia berjuang menyembuhkannya.

;)

resetting life

“And once the storm is over, you won’t remember how you made it through, how you managed to survive. You won’t even be sure, in fact, whether the storm is really over. But one thing is certain. When you come out of the storm, you won’t be the same person you walked in.” -Haruki Murakami

***

Hidup gue tiga tahun belakangan ini, gue akui, berantakan. Dalam banyak aspek. Sehingga, barangkali Tuhan akhirnya memutuskan untuk mengambil langkah: ‘mendefibrilasi’ hidup gue. Memberikan kejutan mahadahsyat pada hidup gue, mematikan semua aliran listrik yang kacau-balau pada hidup gue, agar setelahnya, irama hidup gue bisa normal kembali. Dan tujuannya hanya satu: menyelamatkan gue.

Begitulah kira-kira, gue memahami apa yang terjadi pada hidup gue belakangan ini. Sebagai manusia biasa, tentu semua proses itu ga mudah gue jalani. Tapi toh semuanya berlalu juga. Dan gue mensyukuri semuanya. Amat sangat. Allah Rahman, Allah Rahim.

So, how’s my life now? Alhamdulillah, happy and enjoyful. :) Enam bulan ini gue membenahi hidup gue. Menata kembali semua pada tempatnya, menemukan kembali diri sendiri yang pernah hilang entah ke mana, juga menetralkan kembali semua kecenderungan. Tak lupa, menyemangati diri sendiri setiap mulai kelelahan.

Life is a bucket of thousand beginnings. So, just start wherever you are right now, even in zero point or minus point.

Sulit memang, untuk memulai (kembali) sesuatu. Perlu waktu yang tak sebentar, perlu banyak merenung, perlu pintar-pintar memotivasi diri. Sampai akhirnya gue bisa bilang ini ke diri gue sendiri:

“Jatuh? Oh, biasa. Sini, bangun, berdiri lagi. Oke?”

“Kemarin bikin salah? Oh, yaudah. Hari ini kita mulai lagi. Ya?”

We can’t be perfect. Never. But we can be better. Right?

Selain itu, perjalanan kita tak harus sama dengan perjalanan orang lain. Stop comparing your journey and theirs. Ga ada hubungannya. Kesadaran akan inilah, yang juga membuat jiwa gue damai dan lepas dari gelisah. I’m enjoying my journey. :)

I don’t want what everyone else has. I want only what Allah thinks best for me.

I believe that good things and good people will come into my life. In a way only God knows. :)

***

Hey, it’s a beautiful day! Don’t you see it? :D

 

 

 

 

 

 

I am done.

Alam semesta bekerja dengan caranya sendiri yang ajaib dan begitu luar biasa. Sebelumnya, tidak pernah gw begitu terperangah dengan cara Tuhan yang demikian luar biasa -gw tidak punya kata lain untuk mendeskripsikan- dalam mengatur jalan hidup manusia, menunjukkan dan memberikan jalan yang terbaik.

Jalan-Nya selalu baik. Jauh melebihi nalar manusia. Hanya Allah yang Maha Tahu. Jauh, jauh, jauh, daripada apa yang manusia mampu pahami.

Gw sampai pada titik, di mana gw tidak lagi perlu penjelasan manusia. Semesta dan Pencipta-Nya sudah menjelaskan, dengan cara yang, lagi-lagi, luar biasa. Bahkan tanpa sedikitpun gw minta. Allah Rahman, Allah Rahim.

Gw sampai pada titik, di mana gw merasa begitu tenang dan damai. Tak pernah hati gw setenang dan sedamai ini. Yang hanya bisa datang dari Allah, dengan kasih sayang dan cahaya-Nya.

Gw sampai pada titik, di mana gw hanya ingin menjadi manusia dan hamba-Nya yang baik, apapun yang terjadi pada gw, bagaimanapun manusia lain memperlakukan gw. “What you do not want to do is act like you know everything, attempt to debate everything, or overly defend yourself in a way that might make you angry or upset. This will just cause heartache and uneasiness. Your priority now should be to work on yourself.”

Gw sampai pada titik, di mana gw tidak ingin menyalahkan siapapun. Gw tidak menginginkan keburukan bagi siapapun. Merupakan sebuah keniscayaan bahwa setiap manusia akan melakukan kesalahan. Namun, merupakan sebuah pilihan apakah kita mau berusaha membersihkan diri atau tetap selamanya berdosa. Gw hanya bisa berdoa, semoga setiap dari kita diberikan Allah kesempatan di dunia untuk menyucikan diri kita, dan diteguhkan jiwa kita dalam menjalani segala proses pembersihan tersebut. Hingga luruh segala dosa dan khilaf yang pernah kita perbuat.

Terima kasih, Wahai Allah, atas perlindungan-Mu, atas cahaya-Mu, atas petunjuk-Mu, atas kasih sayang-Mu, atas semua yang telah Engkau berikan kepada hamba, yang mungkin masih jauh dari pantas menerimanya. Hamba berlindung kepada-Mu dari kesedihan yang berkepanjangan, Ya Allah. Hasbiyallah. Cukuplah Engkau bagiku.

Semoga semua ini menjadi penggugur dosa-dosa gw yang menggunung selama ini, menjadi pembersih dan penguat jiwa gw, juga menjadi pembelajaran berharga bagi gw. Semoga semua ini adalah kepompong yang mengubah ulat buruk rupa seperti gw menjadi seekor kupu-kupu yang elok. Suatu hari nanti di negeri yang abadi. Amin ya rabbal ‘alamin.

Terima kasih kepada sahabat-sahabat terdekat, yang begitu men-support dan menyayangi gw dengan tulus. It is a very big blessing to have you all. Proses recovery gw jadi cepet banget. Hanya Allah yang mampu membalas kebaikan hati kalian semua..

Terakhir. Untukmu. Yang aku yakin, aku (pernah) mengenalmu dengan cukup baik. Aku hanya ingin menyampaikan satu hal padamu. Berdoalah agar Allah memberi ketabahan dan kekuatan bagi hatimu, untuk kembali menjadi seperti saat aku pertama kali mengenalmu. Bahkan lebih baik lagi.

Sayonara.

larik qanaah ilalang

Bahagia itu sederhana. Sesederhana ilalang yang bersyukur dirinya ilalang. Sesederhana ilalang yang tak (lagi) bertanya, mengapa ia bukan cemara yang menjulang. Atau mengapa ia bukan beringin yang rindang.

Dewasa itu menerima. Seperti ilalang yang (kini) menerima kehadiran (sekedar) belalang. Seperti ilalang yang tak (lagi) kecewa karena ia bukanlah rasamala tempat elang bersarang.

Ilalang telah mengerti, bahwa di mana kini ia berada, menjadi apa ia tercipta, adalah kebaikan yang amat besar dari-Nya. Ilalang telah mengerti, bahwa merasa cukup adalah kebahagiaan yang sebenarnya.

Maka ia tak lagi malu bercermin pada bulir-bulir embun yang kerap menyapa. Tak lagi merasa bukan siapa-siapa semesta. Bukankah tak semua makhluk sanggup menjadi seperti dirinya?

Ilalang bahkan kini bersukacita, pada cemara yang anggun menjulang, juga pada beringin yang rimbun meneduhkan. Pada rasamala, ilalang bahkan berdendang, menemani elang menyusun peraduan.

Ah, betapa ilalang telah mengarifi. Hikmat hidup tak pernah terletak pada menjadi apa ia. Tapi menjadi ilalang sebaik apa dirinya; semulia apa hidupnya. Bukankah padang nirwana yang dijanjikan Tuhan-nya tak mengenal apakah ia dahulu bertumbuh menjadi ilalang atau eboni?

me, him, and everything between us

Katanya orang itu senang cerita tentang hal yang disukainya. Begitu juga gw, hehe. Dan salah satu hal yg senang gw ceritakan adalah tentang Beruang. Ga peduli betapa seringnya Beruang nyebelin (bilang aja gwnya yang gampang ngambek hahaha).

Gw pengen cerita tentang persamaan dan perbedaan gw dan Beruang, dari mulai hal yg besar, sampe hal yg cemen, hihihi.

Makanan
Sebenernya gw ga punya makanan favorit, walaupun gw suka banget sama chitato rasa sapi panggang, haha. Tapi klo Beruang, makanan yang dia paling sukaaaaa itu soto. Pokoknya makanan berkuah yang hangat deh. Rawon ato tongseng juga bisa. Jadi mungkin klo suatu hari nanti gw masakin nasi goreng buat Beruang, ntar gw sajikannya plus dengan mangkok terpisah isi kuah kali ya, hehehe.

Minuman
Kita berdua sama-sama tukang minum. Minumnya sering dan banyak! Tapi bukan alkohol kok, hehe, kita minumnya air mineral. Sehat dan murah :p Dan beda sama cowo kebanyakan, Beruang ini kurang suka kopi. Sementara gw cukup suka, tapi harus manis, haha. Entah itu dikasih gula, ato dikasih susu/krim.

Warna
Gw ga punya warna tunggal favorit. Tapi gw suka banget sama warna-warna lembut, apapun warnanya. Klo Beruang, dia paling suka warna biru. Waktu gw masih di Cirebon, setiap kali dia datang main dan kita nyari batik, yang dia mau pasti warnanya biru semua -.-

Hewan
KUCING! Kita berdua fans berat kucing. Awalnya gw yg sukaaaaa banget. Tapi lama-lama, Beruang juga jadi cinta banget sama hewan paling unyu di muka bumi itu. Klo nemu gambar kucing, kita berdua suka saling kirim (makanya jangan heran klo DP BBM kita suka kuciiiiing mulu, hihihi, stoknya banyak!). Beruang ini malah semacam duta kucing liar. Kerjanya mengentaskan kelaparan kaum kucing. Jadi, klo nemu kucing yang tampak kelaparan, Beruang sering berinisiatif buat ngasih makan mereka. Dari mulai berbagi tulang di piringnya, sampai sengaja beliin ikan/ayam/sosis baru buat kucing-kucing itu -.-” (gw aja ga segitunya)

Nah, klo itu tadi hal-hal superfisial, sekarang yg lebih dalamnya :p

Kepribadian
Nah, ini nih yang ga bakal habis klo diceritain, hihihi. Tapi gw pengen cerita terbatas pada hal-hal yg berkaitan sama relationship aja. Gw adalah orang yang melankolis-phlegmatis (dengan sisi melankolis yang mendominasi -.-”). Sementara Beruang adalah tipe koleris-melankolis (klo ga salah :D). Sisi melankolis yg kental membuat gw menjadi orang yang (cenderung) punya standard tinggi, perfeksionis, pemikir, penuh perhitungan, mendetail. Sementara Beruang, meskipun punya sisi melankolis, tapi karena ga dominan, jadi sisi yang menonjol pada dirinya adalah sisi cueknya; dia suka bekerja (I mean doing something or working for something is something he loves to do) tapi yaudah dia kerja aja gitu, ga suka mikirin sesuatu secara berlebihan kaya gw, haha. Dia menjalani hidup ini dengan simpel: rencanakan dengan simpel, dan lakukan dengan simpel. Klo gw: rencanakan sampe rempong, dan lakukan secara rempong juga, haha. Kasarnya, prinsip Beruang itu: hidup itu bukan untuk dipikirin, tapi dijalani. Sementara gw: hidup itu sebelum dijalani harus dipikirin dulu, haha (well, klo boleh memilih, gw maunya jadi orang yang simpel aja sih, tapi gimana dong udah begini settingannya :p). Awalnya, perbedaan ini suka jadi penyebab bentrok gw dan Beruang. Gw melihat Beruang kurang mencurahkan perhatian terhadap sesuatu yang gw anggap penting, perencanaannya kurang, ga mendetail (hey, the devil is always on detail!), pokoknya visi-misinya buat gw ga jelas. Sebaliknya Beruang melihat gw terlalu lebay klo melihat sesuatu. Malah kadangkala, yg menurut gw penting, menurut dia, ‘emangnya penting?’ Hehe. Menurut Beruang, gw ini ibaratnya udah lompat duluan bahkan ketika rintangannya masih sangat jauuuuuh di depan. Menurut dia, santai aja, lompat emang perlu, tapi ya klo rintangannya memang terjadi, siapa tau rintangannya belok :D. Tapi seiring berjalannya waktu, gw melihat ini sebagai fenomena saling melengkapi aja sih. Ga usah dipermasalahkan. Justru gw emang harus barengan sama orang yang lebih santai. Coba klo Beruang sama-sama ribet kaya gw. Oh, no..

The way we love
Finally gw menyadari, dan mengerti, bahwa laki-laki dan perempuan memang membahasakan cinta dengan cara yang berbeda. Dan bahasa itu sesungguhnya ga harus semuanya dimengerti oleh masing-masing pihak untuk tetap bersama. Toh sebenarnya kami dari Planet Venus, dan kalian dari Planet Mars, dan kebetulan kita bertemu di Planet Bumi, bukan? :p Maksud gw, untuk bisa bersama, yang jauh lebih penting sebenarnya keyakinan itu sendiri. Keyakinan bahwa pasangan lo benar-benar menyayangi lo.
Beruang mungkin orangnya cuek dan ga romantis, tapi dia selalu bersedia menempuh ratusan kilometer untuk menemui gw. Selama setahun kemarin, dia rutin menempuh Jampangkulon-Cirebon. Jauh loooh, dari ujung ke ujung Jawa Barat. Kira-kira 10-12 jam perjalanan naik angkutan umum (gonta-ganti kendaraan: elep, ojek, bis). Biasanya Beruang berangkat dari Jampangkulon itu subuh, dan baru sampe Cirebon sekitar maghrib. Untuk kembali, dari Cirebon Beruang harus pake bis malam sekitar jam 10, dan baru sampe Jampangkulon pagi harinya.

crb

Jampangkulon-Cirebon

Dan sekarang, setelah kita selesai internship, dia rutin menempuh Tegalbuleud-Jakarta. Jarak ini juga jauh loooh. Bayangin aja dari selatan Jawa ke utara Jawa, jadi kaya membelah Pulau Jawa. Bahkan, di musim hujan kaya sekarang, dan meski Jakarta sedang banjir, dia tetap nekad ke Jakarta. Beruang ke Jakarta-nya bareng sama motor yang kita kasih nama Lumo :D

IMG01444-20130124-0956

Lumo :D

Menurut meteran Lumo, jarak Tegalbuleud ke Salemba itu 230 km, yang ditempuh dalam waktu 6-8 jam. Kenapa? Karena jalanan di daerah Tegalbuleud itu belum bagus, jadi Beruang dan Lumo ga bisa kencang-kencang jalannya.

jkt

Tegalbuleud-Jakarta

Isn’t it sweet? :’)

are you home?

Kata orang, sebuah hubungan itu ibarat rumah. Saat kita menemukan ada lampu yang mati, kita ga lantas membeli rumah baru. Lampunya yang harus diganti. Well, entah kenapa gw suka banget sama perumpamaan ini.

Saat kita memulai hubungan baru dengan seseorang, kita seperti menempati rumah baru. Segalanya (masih) sempurna. Dindingnya bersih, lantainya mengkilap, perabotannya lengkap. Tapi, seiring berjalannya waktu, akan ada perubahan-perubahan yang terjadi, dan ga mungkin dihindari. Lambat laun akan ada lampu yang mati, lantai yang berdebu, cat yang mengelupas. Bahkan bisa saja akan ada piring yang pecah, entah oleh kita atau dia, entah sengaja atau tidak. Mungkin juga gentingnya bocor, tanaman di halaman mati, dan sebagainya.

Apakah itu tanda-tanda bahwa rumah itu tidak layak huni lagi? Apakah serta-merta kita harus mencari rumah baru yang lebih bagus? Seringkali, itu yang kita pikirkan saat kita dihadapkan pada keruwetan sebuah hubungan. When everything went wrong.

Tapi, faktanya, things WILL go wrong if we don’t make it right. Lampu akan mati, kalau kita ga menggantinya saat lampu itu meredup. Lantai akan berdebu kalau kita ga rutin menyapu dan mengepelnya. Tanaman akan mati kalau kita ga menyiramnya. Begitu juga dengan hubungan, yang akan mati dengan sendirinya, kalau kita ga memeliharanya dengan baik.

Dan, upaya pemeliharaan itu tentu harus dilakukan oleh kedua pihak. Mustahil hanya satu pihak yang berusaha. Bagaimanapun juga sebuah hubungan dihuni oleh dua pihak, yang saling membutuhkan satu sama lain.

Hubungan itu media untuk belajar. Saat kita masuk ke dalamnya untuk pertama kali, katakanlah kita adalah seseorang dengan kepribadian X, dan dia adalah Y. Selama menjalani hubungan itu, tidak mungkin kita tetap menjadi orang yang sama. Bahkan, tidak boleh. Hubungan yang baik, harus menjadi media yang baik pula untuk kita memperbaiki diri, untuk menambah yang kurang, dan mengurangi yang lebih dari diri kita. Hubungan yang baik, membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Termasuk, menjadi pasangan yang lebih baik. Jadi, kita bukan hanya akan tetap menjadi X, tetapi X+A+B-C-D. Dan dia mungkin menjadi Y+C+E-B-F. We are still the X and Y, but with some positive addition and reduction :).

Jadi, saat kamu mendapatkan rumah hunian kamu dan pasanganmu sedang perlu perbaikan di sana-sini, tanyakanlah ke hati masing-masing. Apakah kalian masih mau menghuni rumah yang sama? Apakah kalian mau bersama-sama memperbaikinya?

Itu yang gw pahami :).

***

Several days after he said, “I need a woman to take care of me, this messy one. And I hope it’s you..”

Boom! This sentence meant more when it was a not-romantic-at-all guy who talked! :)

Previous Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.