internship: sebuah media metamorfosa
13 Nov 2011 5 Comments
in becoming a doctor, life lesson, life story
Jadi ceritanya, gw sudah mulai intership di RSUD Arjawinangun, Cirebon. Empat bulan pertama gw ditempatkan di unit rawat inap dan rawat jalan dulu, sedangkan empat bulan berikutnya gw akan rolling ke IGD. Empat bulan terakhir baru gw ke Puskesmas Ciperna. Untuk minggu-minggu awal, gw dapat giliran di bagian bedah dulu.
Perawat yang ramah
Gw senang sekali karena perawat-perawat di RSUD ini sangat amat ramah dan welcome. Gw (yang ga tau apa-apa ini) diberi banyak penjelasan tentang kota Cirebon dan RS, bahkan sampai ada perawat yang bersedia menemani gw naik elf
.
Elep si elf
Ngomong-ngomong soal elf (klo orang sini bacanya elep
), gw sempat pulang-pergi kosan-RS dengan elf. Gw merasa perlu untuk bisa mandiri ke mana-mana (setidaknya ke RS tempat gw bekerja), jadi meskipun ada teman-teman yang bawa mobil pribadi (dan bisa ditebengin), gw tetap mencoba si elf
. Elf ini adalah angkutan umum yang banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat (tapi tidak di Jakarta, makanya sepertinya elf ini adalah benda baru bagi sebagian temen-temen gw
). Apa sih yang menarik dari elf? Banyak
. Dari mulai menunggu dan memilih elf mana yang harus ditumpangi (seringkali tidak ada tulisan jurusan di elf itu, jadi cara untuk mengetahui jurusan elf itu adalah dengan mengkonfirmasi secara oral ke kenek/sopir atau bisa juga dengan melihat kode yang dibuat oleh tangan kenek/sopir), berdesak-desakan di dalam elf (satu buah kursi bisa diduduki oleh 2 orang, belum lagi klo ada kursi tambahan dan para penumpang yang terpaksa berdiri.. makanya susah banget untuk masuk dan keluar elf
), ditambah dengan debu-debu dan aroma-aromanya, dan yang paling parah, ketidakamanannya (elf dikenal banyak copet, jadi harus hati-hati terhadap benda berharga di dalam tas). Yeah, pertama kali gw naik elf, yang ada di pikiran gw pertama kali adalah: andai saja gw ada mobil pribadi, andai saja gw bisa menyetir dengan benar. Tapi, menit-menit berikutnya, tanpa gw duga, gw ‘menikmati’ perjalanan menggunakan elf ini. Entahlah, tapi gw jadi sadar, hey, inilah Indonesia! Di mana sebagian besar masyarakatnya memang menggunakan transportasi umum(seperti elf) untuk bepergian. Memang benar, lihatlah ke bawah, maka kau akan bersyukur. Saat gw melihat seorang ayah yang mengantar anak perempuannya sekolah naik elf (dan harus berdiri karena tidak mendapatkan kursi), gw bersyukur saat sekolah dulu gw bisa diantar orangtua naik mobil. Saat gw melihat seorang nenek, gw bersyukur nenek gw bisa ke mana-mana diantar anak-cucunya pake mobil.
Panasnya membara!!
Cirebon adalah kota yang sangat panas! Berkali-kali lipat panasnya dibandingkan Jakarta! Gw perlu payung untuk bisa berjalan-jalan di bawah sinar matahari Cirebon, terutama saat tengah hari. Setahun tinggal di sini gw harus siap-siap gosong..
Nasi jamblang
Makanan khas Cirebon (yang gw sudah coba) adalah nasi jamblang. Sebenarnya nasi jamblang adalah nasi putih biasa dengan lauk-pauk, tapi ciri khas makanan ini adalah alasnya yang menggunakan daun jati, porsi nasinya yang sedikit (bapak-bapak biasanya memesan 2-3 porsi nasi), dan sambalnya yang berupa potongan-potongan panjang cabe merah tanpa biji (sehingga tidak pedas sama sekali).
Bahasa Jawa >> Bahasa Sunda
Hal yang membahagiakan gw saat pertama kali mendapat kabar bahwa angkatan gw dapet internship di Jawa Barat adalah soal bahasa. Gw (yang kebetulan berdarah Sunda) pikir Jawa Barat adalah tanah di mana satu-satunya bahasa daerah yang dipakai adalah bahasa Sunda. Ternyata oh ternyata, hal ini tidak berlaku di Cirebon (yang gw baru ngeh secara geografi memang dekat sekali dengan Jawa Tengah), di mana sebagian besar penduduknya berbicara menggunakan bahasa Jawa. Gw mengalami kesulitan saat menggali riwayat penyakit pasien, karena yang gw dengar dari pasien hanyalah serentetan kata-kata yang tidak gw mengerti. Hufff. Sejauh ini gw cuma mengerti beberapa kosakata saja seperti nengkene dan nengkono hahaha, tapi gw harap tidak lama kemudian gw bisa memahami bahasa Jawa.
Tempat tinggal
Beberapa waktu lalu gw dan Gebi sempat terpikir untuk mengontrak sebuah rumah. Namun, karena berbagai pertimbangan (terutama karena alasan security) akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal di kosan. Hanya saja, akhirnya kami berpisah kamar. Gw tetap di kamar B, dan Gebi pindah ke kamar A (yang sebelumnya ditempati oleh Vinda).
Kamar gw di sebelah kanan atas
Pendewasaan
Internship bagi gw bukan hanya sekedar magang di daerah selama 1 tahun. Well, I’m a complicated person, hehe. Actually…ini bukan soal RS tempat gw bekerja, bukan soal tempat tinggal, bukan soal teman-teman serombongan. Ini tentang gw sendiri, yang selama ini selalu takut menghadapi hidup (dan realita yang mengisinya), dan tiba-tiba dipaparkan kepada hal-hal baru yang, entah gw bisa atau tidak melewatinya, hehe. Yang jelas, di sini gw berusaha membunuh satu per satu rasa takut gw, kecemasan gw, dan ketidakyakinan gw akan kemampuan diri. Gw sadar sudah saatnya gw berdiri di atas kaki sendiri, dalam arti, setiap tantangan hidup memang untuk dihadapi, bukan untuk dihindari. Karena toh, lari tidak menjamin tantangan itu tidak akan datang lagi; lari hanya membuat jiwa kita kerdil. Dan gw ga mau.
Dan untuk melakukan itu semua, gw perlu motivasi yang amat besar. Dan sungguh, tidak ada motivasi yang lebih besar daripada pelukan-Nya. Setiap melangkah, terutama saat disertai rasa enggan (entah karena rasa takut atau rasa malas), ingatan bahwa setiap tindakan yang diniatkan untuk beribadah kepada-Nya akan menjadi bekal gw kelak, selalu menjadi penyembuh. Bahwa hal-hal terkecil sekalipun yang gw lakukan, akan berarti besar di mata-Nya. Bahwa setiap usaha gw membunuh setiap rasa takut adalah berarti di timbangan-Nya. Dan, di sini juga, gw kembali diingatkan, bahwa tidak ada (seorangpun!) yang bisa menjaga gw, kecuali Allah, dengan kekuatan-Nya yang
mencakup segala hal.
***
Satu tahun ke depan, mudah-mudahan bukan menjadi satu tahun yang sia-sia.
Satu tahun ke depan, mudah-mudahan menjadi satu tahun penuh pembelajaran, bukan hanya tentang bagaimana menjadi dokter Indonesia yang baik, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang matang dan bijak.



Recent Comments