kado kecil untuk sahabat
18 Apr 2012 2 Comments
in life lesson
Kita pernah menjadi
tiga benih yang bertumbuh bersama
Masing-masing menjadi saksi atas setiap kegigihan, juga kerapuhan
Karena hidup bukan hanya tentang hujan yang memerciki bumi, lalu menyuburkannya
Hidup juga tentang kemarau yang menyiksa,
atau serbuan hama tak terduga
Kita pernah menjadi
tiga tunas muda yang malu-malu menyapa dunia
Tertawa bersama,
saat bulir-bulir embun pagi berguling-guling manja
Menangis bersama,
saat hewan-hewan hutan tak sengaja menginjak kita,
tak sadar kita ada
Hingga tiba hari di mana
Setiap dari kita menjelma berbeda
Aku mungkin menjadi trembesi, kau menjadi kenari, dan dia mungkin angsana
Tak yakin benar apakah akar dan batang kita
sudah cukup kuat bila badai tiba
Ah, kita hanyalah tiga penghuni belantara
Percaya bahwa hidup adalah tempat Tuhan bermetafora
Sekaligus ruang bagi kita untuk mencerna
berbagai pengajaran tanpa aksara
Cirebon, April 2012
never argue with stupids
27 Mar 2012 6 Comments
in becoming a doctor, life lesson, life story
Satu hal yang secara konstan gw pelajari akhir-akhir ini adalah tentang kesabaran. Bagaimana kejadian demi kejadian yang membakar emosi (yang sayangnya ga bisa gw ceritakan di sini karena alasan etika) kami coba hadapi dengan mengelus dada.
Gw ga pernah mempermasalahkan orang bodoh. Bukan saja karena gw sendiri ga pintar-pintar amat, tetapi juga masalah pintar atau bodoh seringkali adalah soal karunia Tuhan. Bagi mereka yang memang sudah bakatnya cerdas, apalagi keluarganya dikaruniai kemampuan finansial yang baik sehingga sejak kecil sudah les ini-itu, tentu ga bisa disamakan dengan anak dari pedalaman yang orang-orang di sekitarnya buta huruf dan orangtuanya tidak punya cukup uang bahkan untuk menyekolahkan anak-anaknya sampai lulus SD. Maka, kecuali kebodohan yang mengakibatkan kerugian bagi publik (seperti mabuk-mabukan lalu menyetir, dan akhirnya menabrak orang hingga tewas), gw ga pernah mempermasalahkan. Tapi, kepada orang-orang yang tidak punya etika, sopan-santun, dan norma, gw ga bisa lagi toleran. Ini yang bagi gw, benar-benar the real stupids.
Akhir-akhir ini gw menjumpai orang-orang seperti ini di dunia nyata (satu-satunya hal yang bisa gw ucapkan terima kasih kepada mereka adalah karena mereka sudah membuat mata gw lebih terbelalak menatap realita, so I can be less naive). Mereka bisa berformasi menjadi banyak bentuk; orang yang menyerahkan kewajiban-kewajibannya begitu saja kepada orang lain (tanpa kata ‘tolong’ dan ‘terima kasih’ sama sekali) tetapi kerjanya hanya protes tanpa henti, orang yang menyalahkan terus orang lain tanpa sama sekali becermin dan introspeksi, orang yang terus berkicau tentang apa yang tepat dilakukan sementara sikapnya sendiri jauh dari teladan, orang yang terus mengkomplain hasil pekerjaan orang lain sementara ia sendiri hanya ongkang-ongkang kaki, dan banyak lagi. Yes, they exist. Bahkan, lebih parahnya lagi, orang-orang seperti ini beberapa memiliki jabatan. Dunia mungkin memang sudah gila.
Berkali-kali gw ingin menjotos orang-orang seperti ini, kalau saja gw tidak ingat bahwa melakukan hal ini hanya akan menyusahkan diri sendiri dan malah membuat gw sama buruknya dengan mereka. Kalo kata bokap gw, “Marah, normal. Tapi harus tetap smart, jangan sampai mencelakakan diri sendiri.” Bokap, yang memang selalu menjadi wadah hampir semua luapan emosi gw, menambahkan, “Akan lebih banyak lagi orang-orang brengsek yang kamu temui kelak. Sekarang cuma warming up dan vaksinasi aja.” Gw percaya.
Out of topic, bokap gw ini bukan hanya tempat curhat yang enak karena nasihatnya melegakan, tetapi juga sangat entertaining, dengan gaya mantan premannya
. Seringkali kekesalan gw (yang gw curhatkan kepada beliau), langsung hilang setelah direspons oleh bokap, bahkan gw suka geli sendiri. Waktu itu gw sedang kesal kepada seseorang, lalu kata bokap gw, “Bilang ke dia, ayah kamu dukun santet, biar dia takut.” Spontan gw ngakak
. Waktu gw kesal karena laptop gw rusak, bokap gw bilang, “Coba ludahin deh, habis itu ntar nyala.”
Back to the topic. Kepada orang-orang seperti yang tadi gw ceritakan, gw belajar bukan saja untuk menahan sabar menghadapi sikapnya, tetapi juga belajar untuk mengaplikasikan peribahasa ‘anjing menggonggong, kafilah berlalu’. Seorang teman bilang, “Never argue with stupids. They drag you down to their level then beat you with experience.” Jadi, orang-orang seperti itu ga usah ditanggapi. Ga berguna. Biarlah mereka dengan dunianya sendiri. Lebih baik didoakan supaya segera disadarkan kepada kesalahannya (dan kena batunya). Gw juga belajar untuk, jangan sampai sikap mereka membuat gw cemberut terus sepanjang hari. Jangan sampai mereka merusak hari-hari gw. Bagaimanapun, hal-hal seperti ini memang menjadi bagian hidup kita, jadi kita harus membiasakan diri.
Dan yang terpenting, ambil pelajaran dari mereka. Jangan sampai gw kelak menemukan diri gw menjadi orang dengan pribadi dangkal seperti itu. Kejadian-kejadian ini disyukuri saja, karena pasti memberi andil yang penting untuk maturitas gw.
latest moments (last 3 months) ^^
27 Mar 2012 Leave a Comment
in life story
Bareng koas-koas Yarsi di ultah Nawang
RSUD Arjawinangun. Jalan besar di depannya itu termasuk jalur Pantura.
Barbeque time in New Year’s Eve
Jagung bakar bumbu BBQ. Nyammm.
Payung adalah properti yang wajib dibawa ke mana-mana di Cirebon. Matahari di sini berasa beranak-pinak..
Warga baru di kamar gw: Coki (the big one) dan Kugi (yang mungil)
latest update
23 Mar 2012 Leave a Comment
in becoming a doctor, life lesson, life story
Kyaaaaaaaaa. Udah lama banget gw ga nulis blog ini.. >.< *elus-elus laptop* So, here I am, writing down the latest update from kandangkucing (baca: kamar kosan gw) di Cirebon. Yippie!
Sepertiga Kedua Internship
Sekarang gw sudah memasuki empat bulan kedua masa internship di Cirebon. Yeah, empat bulan di bangsal-poliklinik-ICU akhirnya selesai juga! Sekarang (kurang-lebih sudah 2 minggu) gw sudah pindah tempat dinas, yaitu IGD. Saat di awal internship awalnya gw pikir IGD akan sangat menakutkan buat gw (apalagi bloody show-nya), tapi agaknya kekhawatiran gw agak berlebihan. Bahkan, setelah dijalani, IGD lebih mengasyikkan. Kenapa? Selain karena jam kerjanya jauh lebih manusiawi daripada jam kerja di bangsal-poli-ICU, di IGD kemampuan kita sebagai seorang dokter dalam menegakkan diagnosis dan memilih terapi rasanya lebih terasah. IGD juga salah satu tempat yang bisa membuat gw bersyukur setiap harinya. Karena (meskipun sekarang gw lagi sakit), setidaknya gw ga berdarah-darah karena kecelakaan lalu lintas, ga kena infeksi yang udah sistemik menjalar ke seluruh tubuh gw (sepsis), orangtua gw ga mengalami sakit berat seperti gagal jantung atau stroke, dll.
Friksi dan Manajemen Emosi
Pada dasarnya gw adalah makhluk pecinta damai *halah*. Duh, alergi deh sama yang namanya musuhan apalagi perang. Selama ini gw sangat menjunjung tinggi yang namanya: hidup berdampingan satu sama lain, saling menghormati eksistensi masing-masing, saling menyayangi, dan semua nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh guru PPKn kita saat masih sekolah. Tapi, belakangan ini gw sadar, ga selamanya keadaan akan seperti itu. Adanya interaksi antara dua (atau lebih) pihak memang berpotensi untuk menimbulkan friksi, dan friksi tersebut sejatinya adalah hal yang wajar terjadi. Belakangan ini gw terlibat dalam beberapa friksi yang membuat gw kini melihat friksi dari kacamata yang berbeda; bukan lagi sebagai hal yang terlarang dan tabu, tapi sebagai sesuatu yang memang menjadi bagian dari hidup kita, khususnya dalam kehidupan bermasayarakat.
Ada kalanya friksi itu hanya melibatkan gw dan seseorang yang lain. Namun, kadangkala friksi terjadi dalam skala yang lebih besar, melibatkan kelompok-kelompok. Gw, sebenarnya lebih cenderung bersikap ‘kalo bisa damai, ngapain harus berantem’. Sehingga, beberapa kali gw dinilai orang lain sebagai orang yang terlalu berpikir positif kepada orang lain (yang bisa jadi, ternyata ‘jahat’). Akan tetapi, saat gw sampai pada titik di mana gw merasa diperlakukan seeenaknya atau ‘dijajah’, gw akan memberontak sekuat mungkin. Bahkan, respons emosional gw terhadap -katakanlah- ketidakadilan itu, bisa jadi lebih ‘hebat’ (baca: ganas) daripada orang lain. Sampai-sampai, kadang-kadang gw menyesal sendiri, ya ampun kok gw bisa sejahat itu sih sama orang lain.. Dan bagi gw pribadi, perasaan bersalah, adalah perasaan termenyakitkan yang bisa manusia rasakan. Sehingga, gw lantas belajar, bahwa, sometimes, when you’re mad, you have the right to be mad, but you don’t have the right to be cruel.
Jangan Menjadi (Dokter) Naif
Suatu hari di poliklinik Obsgyn, di mana gw belajar (hampir secara autodidak) untuk melakukan USG, terutama kepada pasien kebidanan, seorang perempuan muda datang dengan keluhan terlambat datang bulan 2 bulan terakhir. Perempuan ini menyangkal sudah menikah ataupun melakukan hubungan seksual. Namun, saat gw melakukan pemeriksaan USG padanya, gw melihat ada janin di dalam rahimnya. Hasil tes urine-nya pun positif. Tapi si pasien tetap menyangkal mati-matian, meski gw sudah mencoba berbicara dengannya untuk bersikap terbuka kepada gw. Sikap pasien yang defensif seperti itu awalnya sempat memunculkan sedikit keraguan dalam hati gw. Apakah pasien yang berbohong, ataukah pemeriksaan gw yang salah. Padahal sudah jelas jawabannya. Untungnya dokter spesialis Obsgyn segera datang, dan langsung ‘menembak’ si pasien: “Ga mungkin Mbak hamil klo ga begituan. Emangnya Mbak Maryam?”
Kasus kedua, terjadi di IGD. Seorang perempuan muda datang dengan berlumuran darah di bagian wajah. Gw perhatikan, pipi kirinya robek sangat lebar (nyaris seperti fillet pipi); telinga kirinya bahkan sampai terputus. Ia masih sadar, tapi tampak sangat kesakitan sehingga tidak memungkinkan gw untuk mengambil keterangan langsung darinya. Si pasien datang ditemani seorang laki-laki bertato yang gw tebak sebagai suaminya. Menurut suaminya, istrinya tiba-tiba terpeleset dan kepalanya menyundul sebuah meja yang terdapat golok di atasnya. Gw merasa ada hal yang ganjil, tapi gw berusaha tepis dengan bertanya, “Benar bukan sengaja kan?” Sang suami mengiyakan, dan gw kembali melanjutkan pemeriksaan sambil mengisi status. Selang setengah jam kemudian, seorang polisi datang beserta serombongan orang yang ternyata keluarga si pasien. Info yang didapat, ternyata si suami berniat menyembelih si istri dengan sebilah golok.
Dua kejadian itu berhasil membuat gw merasa bukan saja naif, tetapi juga goblok. Dokter memang diajarkan untuk mengambil keputusan medis berdasarkan keterangan subjektif (melalui anamnesis) dan bukti-bukti objektif (melalui pemeriksaan fisik dan penunjang), tetapi saat terdapat ketidaksesuaian di antara keduanya, bukti objektif punya kekuatan lebih (terutama pada pasien dengan tingkat edukasi yang rendah). Ternyata masih banyak sekali yang harus gw pelajari..
Serangan Tomcat
Ventilasi kamar kosan gw memang tidak tertutup rapat, sehingga di malam hari, kamar gw sering kedatangan serangga-serangga, yang sebagian besar berkumpul di daerah lampu. Depan kamar kosan gw memang lapangan rumput yang cukup luas, sehingga bisa jadi habitat serangga. Awalnya, gw tidak merasakan efek negatif selain lantai kamar gw menjadi mudah kotor. Tapi, suatu pagi, saat gw bangun tidur, gw merasa punggung tangan, lengan, dan leher gw sangat gatal dan terasa panas. Bahkan lama-lama muncul lenting-lenting. Gw menduga kulit gw terkena gigitan serangga, yang akhirnya gw garuk saat gw sedang tertidur. Tapi, saat itu gw belum tahu serangga mana yang bisa mengganggu kualitas hidup gw selama seminggu kemarin. Karena rasa gatal dan panas yang cukup hebat itu (ditambah mulai ada infeksi sekunder karena ga sengaja tergaruk), gw akhirnya menggunakan krim steroid-antibiotik, selain menggunakan antihistamin. Barulah, setelah mulai membaik, mulai muncul BM tentang serangan serangga Tomcat yang ternyata oh ternyata, bentuknya mirip banget dengan serangga yang sering main ke kamar gw.. Gejalanya juga mirip sekali.. Dari awalnya kaget, gw lalu lemas.. Gw baru tau klo serangga mirip semut berwarna hitam-oranye itu ternyata punya racun yang sekaligus iritan membahayakan bagi kulit. Tapi sudah terlambat, racun Tomcat sudah mengenai kulit gw, dan sekarang, meski sudah sembuh, tapi meninggalkan bekas kehitaman.
Pingsan Perdana
Sejak SD, klo ikut upacara bendera, gw sering black-out; tiba-tiba pandangan berubah warna menjadi abu-abu, lalu mulai menggelap, keluar keringat dingin, sesak, dan wajah menjadi pucat. Tapi tidak pernah sampai pingsan. Guru-guru gw selalu siaga membawa gw ke ruangan guru untuk rebahan, sementara teman-teman yang lain tetap mengikuti upacara. Di SMA, gw juga pernah black-out. Waktu itu gw sedang mengikuti pelajaran Biologi, sewaktu tiba-tiba nyeri karena dysmenorrhea menyerang. Nyerinya sangat. Keringat dingin gw mulai keluar, kepala gw pening, dan wajah gw memucat. Guru Biologi gw menyadari hal itu, dan mempersilakan gw berbaring di mushola. Saat kuliah, gw juga pernah black-out. Waktu itu gw sedang mengikuti praktikum Histologi, di mana kita semua diharapkan untuk mempelajari dan menggambarkan jaringan-jaringan tubuh manusia. Gw, yang juga sedang kesakitan karena dysmenorrhea, hanya bisa menelungkupkan wajah ke lengan, menahan sakit. Pandangan gw yang kabur, dan sensasi-sensasi khas black-out, ga memungkinkan gw untuk menyelesaikan tugas yang diminta. Sampai praktikum selesai, kepala gw terbenam di lengan. Sampai akhirnya sahabat gw, Temoy, memanggil gw. Melihat wajah gw yang pucat dan menahan sakit, Temoy lalu menemani gw membeli obat penghilang nyeri. Semua black-out itu tidak pernah berujung pingsan betulan, sampai tadi dini hari.
Kemarin malam adalah giliran gw dan Wida untuk tugas jaga malam di IGD. Kondisi badan gw memang sedang ga fit. Meriang, ingusan, lemas. Apalagi seharian sebelum jaga gw ga makan nasi sama sekali; gw hanya makan 2 tangkup roti dan sebungkus popmie (Gw emang lagi krisis nafsu makan akhir-akhir ini, makan nasi paling cuma sekali sehari, itupun hanya setengah piring. Sisanya, kalau lapar, gw hanya makan roti). Malam itu sebenarnya cukup sepi, tapi gw ga bisa tidur. Kamar perawat (yang malam itu kami jadikan tempat beristirahat) terlalu dingin. Gw yang memang tidak tahan dingin (apalagi memang sedang sakit) makin menggigil; jaket yang gw pakai ternyata ga berhasil menahan dingin. Hidung gw malah tersumbat total, sehingga gw tidak bisa bernapas lewat hidung. Argh. Sekitar pukul setengah 4, ada panggilan karena ada pasien baru. Gw dan Wida lantas bangun dan memeriksa pasien yang ternyata korban kecelakaan lalu-lintas itu. Gw baru saja selesai meng-anamnesis istri pasien, saat kepala gw mulai pening. Pening yang berbeda, bukan pening karena kurang tidur. Insting gw mengatakan gw harus duduk, maka gw meninggalkan Wida yang belum selesai melakukan pemeriksaan fisik. Gw lalu berjalan ke meja dokter, dan duduk. Kepala gw tambah pusing. Seorang perawat, Mbak Mei, yang sedang membaca-baca status, tiba-tiba bertanya, “Dokter kenapa?” Gw jawab, “Pusing..” Lalu badan gw terasa semakin lemas, dan gw pandangan gw semakin gelap. Gw masih melihat dengan samar-samar, Mbak Mei mendekat ke arah gw, memeluk gw, sehingga gw tidak jatuh ke lantai. Gw masih mendengar sayup-sayup suara gredek-gredek roda bed pasien didorong oleh portir. Sampai akhirnya pandangan gw semakin gelap dan badan gw tidak bisa lagi digerakkan. Saat membuka mata, gw sedang berbaring di kamar perawat. Dan yang pertama gw rasakan adalah…malu. Malu karena sudah membuat kehebohan dan sudah merepotkan. Masa dokter malah jadi pasien? >.< Gw lalu mendapat teh manis hangat
. Para perawat (yang baik hati itu) menyarankan untuk lanjut beristirahat saja, tapi…berhubung rasanya magabut klo ga balik jaga, akhirnya sekitar sejam kemudian, setelah solat Subuh, gw kembali melanjutkan tugas jaga.
Semoga tidak terulang lagi, hehe..
jawab atas tanya
23 Jan 2012 Leave a Comment
in life story
Saat gw sedang mengetik ini, gw sedang duduk di atas kasur kamar gw di Bandung, padahal seharusnya gw sekarang sedang berada di ICU RSUD Arjawinangun menunaikan tugas jaga. Tapi segala sesuatu harus disyukuri, termasuk badan yang sedang tidak fit selama beberapa hari terakhir
Ada banyak captured moments yang ingin gw bagi di sini, tapi juga ada emmh katakanlah sejumlah kegalauan (?) yang juga ingin gw tuang di sini. Dan, tampaknya kegalauan lah yang menang, hahaha.
Gw tidak menyangkal bahwa gw memang orang yang sering berpikir ribet. Mereka yang sudah mengenal gw dengan baik, sering berkata bahwa gw adalah orang yang sudah melompat bahkan sebelum duri tampak. Mereka bilang, ancang-ancang gw sering terlalu dini. Mereka bilang, pemikiran gw terlalu jauh ke depan, bahwa kekhawatiran gw terlalu berlebihan. Tapi, di balik itu semua, sebenarnya ada hal positif yang bisa gw ambil: gw adalah orang yang well-prepared.
Tapi, kompleksitas hidup semakin menjadi. Ada banyak hal yang sulit atau bahkan tidak dapat diprediksi. Ada beberapa problema kehidupan yang jalan keluarnya entah ada atau tidak, saking ruwetnya. Dan ada satu hal yang terus-menerus mengisi pikiran gw 1-2 tahun belakangan ini. Pertanyaan yang sama, yang terus menggema tanpa henti, karena belum juga ada jawabnya.
Maka setiap kali tanda tanya itu tak berbuah titik, apalagi tanda seru, yang gw lakukan hanyalah meninggalkan pertanyaan itu utuh seperti sedia kala. Untuk gw coba temukan lagi jawabnya di kemudian hari, sembari berdoa semoga dalam waktu dekat Tuhan mempertemukannya dengan jawab.
Atau, paling tidak, agar Tuhan memberikan kesabaran ekstra kepada tanya yang semakin menua.
what a…life
25 Dec 2011 Leave a Comment
in becoming a doctor, life lesson, life story
Hidup membawa gw sampai pada sebuah titik di mana gw tidak memiliki pilihan lain selain menjadi seorang manusia yang kuat. Setidaknya, lebih kuat daripada sebelumnya. Gw yang biasa takut menghadapi hidup, kali ini benar-benar dipaksa untuk maju terus, tak peduli apapun yang berada di depan, dan tak peduli betapa gw enggan untuk menjalani itu semua. Gw tidak bisa menghindar lagi, seperti yang biasa gw lakukan dahulu. Inilah hidup. Happiness is not the absence of problems, but the ability to deal with them. Bokap gw selalu mengajarkan untuk menjadi seseorang yang fight living a life, dan tidak menyerahkan problema kehidupan kepada orang lain.
Pada kenyataannya, rasa takut itu masih ada. Tapi, hadapi saja, dengan basmallah dan tawa.
the togetherness
24 Dec 2011 2 Comments
in becoming a doctor, life story
Hell-o world! So many things had happened, then so many things to tell!
Jadi, kurang-lebih sudah 6 minggu kami menjadi dokter internship di Cirebon. Daaan, sangat buanyakkkk yang sudah terjadi. Suka-duka, hujan-panas, kenyang-lapar, kami jalani bersama.
Saking banyaknya yang pengen gw ceritakan, jadi bingung mau mulai dari mana.
Hmm, mari mulai dari kegiatan sehari-hari di rumah sakit.
Jadwal Harian
Berhubung 4 bulan pertama kelompok kecil gw kebagian di bangsal dan poliklinik duluan, jadi waktu kami sehari-hari ya dihabiskan di dua ruangan itu. Setiap pagi kami berlima (Ciput, Ncen, Novi, Gebi, gw) berangkat bareng-bareng, naik mobil Novi/Ciput. Dalam 15 menit, kami sampai RS. Sebelum jam 7 kami pasti sudah sampai RS, karena setiap hari ada apel pagi di lapangan RS. Selesai apel, kami menuju bangsal masing-masing, untuk follow up pasien-pasien (dan bercengkrama dengan koas-koas dan perawat-perawat
). Jam 9 kurang kami berangkat ke poliklinik, naik mobil lagi. Dan di sinilah kemampuan menyetir Novi ditempa
soalnya ngeluarin mobilnya rada susah.. Jam 9-12 adalah waktunya bekerja di poliklinik. Sekitar jam 12.30 kami kembali ke bangsal (naik mobil lagi) sampai jam 2 siang. Jam 2 siang, klo ga kebagian jaga di ICU dan bangsal, baru kami bisa pulang.
2 minggu pertama gw habiskan di bangsal bedah dan poliklinik bedah. Kasus-kasus bedah yang banyak di sini itu hernia, BPH (benign prostate hypertrophy), appendisitis, dan urolitiasis. Di bagian bedah ini kami sering melakukan GV dan aff hecting.
2 minggu berikutnya gw tetap di bangsal bedah, tetapi gw pindah kerja ke poliklinik umum. Poliklinik umum di RSUD Arjawinangun juga berfungsi sebagai poliklinik DOTS, jadi kasus yang banyak ditemui adalah TB (atau sering disebut KP -Koch Pulmonum-), walaupun sering juga pasien datang dengan keluhan batuk-pilek-demam atau medical check up. Gw menikmati bekerja di poliklinik ini. Entah karena pola penyakitnya yang emang dokter umum banget, entah karena jumlah pasiennya yang manusiawi sehingga gw punya waktu cukup untuk memberikan informasi dan edukasi kepada pasien terkait penyakitnya, entah karena ruangannya yang nyaman, atau entah karena banyak makanan
. Yang jelas, bekerja di poliklinik umum membuat gw ingin cepat-cepat buka praktek sendiri.
2 minggu terakhir gw pindah ke bangsal dan poliklinik penyakit dalam. Di bangsal, kasusnya bervariasi, dari mulai TB, DM, sirosis hepatis, CHF, sampai sindrom Steven Johnson juga ada. Sedangkan di poliklinik, karena gw kebagian memeriksa pasien-pasien kontrol, jadi kasus yang banyak didapatkan adalah DM, TB, asma, PPOK, dan hipertensi.
Teman-teman yang Baik dan Menyenangkan!
Gw bersyukur, sangat bersyukur, di sini gw dikelilingi oleh orang-orang yang baik. Teman-teman di kelompok kecil (5 orang) maupun kelompok besar (20 orang) really made my days. Kami di sini sangat kompak (beneran!) dalam menjalani internship. Masalah demi masalah kami berusaha hadapi bersama-sama, dan keputusan yang diambil adalah hasil rembukan bersama. Klo ada hal-hal yang penting untuk dibicarakan bersama, kami sering diskusi di ‘balai desa’, yang sebenarnya adalah rumah kontrakan Novi, Syifa, dan Isan. Oya, 15 orang lainnya (selain kelompok kecil gw) adalah Wida, Echi, Ferdi, Peter, Ae (yang sekarang sedang bekerja di Puskesmas Plumbon), lalu Christ, Isan, Syifa, Tara, Vinda (yang sekarang di Puskesmas Panguragan), dan Dion, Acil, Astrid, Sari, Sunita (yang sekarang di IGD RSUD Arjawinangun). 18 orang dari 20 orang ini tinggal bersama di Villa Indah Panembahan (VIP), sehingga kami banyak menghabiskan waktu bersama, terutama olahraga bareng di sore hari, seperti renang, bulu tangkis, atau dance
(padahal 5 tahun koass gw jarang banget olahraga).
Makan nasi jamblang bareng-bareng di Pelabuhan.
Nonton Twilight di Grage Mall.
Waktu traktiran ulang taun Vinda.
Sedikit drama untuk birthday surprise Christ.
Di Pizza Hut, traktiran ulang taun Christ.
Tapi, tentu aja, waktu gw sebagian besar dihabiskan bareng-bareng kelompok kecil gw. Dan gw senaaaang sekali mereka sangat baik, menyenangkan, dan kocak!
Here they are:
Gebi. Dari ber-20, Gebi ini intern paling muda, 2 tahun lebih muda daripada gw. Jadi meskipun Gebi punya 2 orang adik, mukanya emang muka anak-anak gitu
. Gebi ini rajin bangun pagi setiap hari, jam setengah 4 pagi dia udah bangun! Luar biasa bukan?! Dan karena hobi bangun paginya itu, dia resmi menjadi alarm gw di pagi hari, sehingga gw ga pernah telat bangun lagi
. Tapi namanya juga bayi Gebi ini klo tidur pun sangat cepat, jam 8 malem gitu dia udah tewas biasanya. Gebi ini orangnya cuek, tapi menyenangkan dan suka ngocol juga, jadi gw sering ketawa-ketawa klo dia dah cerita sesuatu, hahaha.
Novi. Cewe ini sangatttt pintarrrr dan rada obsessive-compulsive. Kadang-kadang dia menganggap klo orang lain itu standardnya sama kaya dia. Jadinya kami sering jiper gitu, hahaha. Suaranya lembut banget, jadinya kadang-kadang suka ga kedengeran gitu Novi lagi cerita apa
. Tapi, di balik kelembutannya itu, Novi ini orangnya suka sekali tantangan. Bahkan kadang-kadang kecintaannya pada tantangan itu agak membahayakan
. Doi klo lagi nyetir (di pantura looh) beberapa kali mengundang teriakan kami, “Nov, rem Nov, rem!!”
Ciputra. Ciput ini ketua kelompok gw. Dia termasuk cowo yang gentleman versi gw
, ga pelit dimintai bantuan dan bijak serta rasional dalam mengambil langkah. Tapi emosinya bisa 10 kali jadi lebih pendek saat dia lagi nyetir. Sumpah serapah bisa dia lontarkan ke para pengguna jalan yang bawa kendaraan semaunya. Ciput ini udah punya ‘anak’, yang namanya Yaris. Dan bersyukurlah Dek Yaris ini, karena dia punya ‘ayah’ yang sangat menyayanginya dan memeliharanya sepenuh hati
.
Vincent. Ncen ini orangnya sangatttt kocakkkk. Dia adalah pemicu tawa kami sehari-hari
. Ncen dilahirkan dengan sifat hemat dan perhitungan yang tinggi, jadi sensitivitas dia terhadap diskon-diskon jauh lebih tinggi daripada kaum hawa. Setiap pagi dia selalu nanya, “Mau makan nasi uduk yang enaknya sedunia ga? Harganya dua rebu aja lohhhh!”
Bersama room matenya, Ciput, mereka berhasil melakukan penghematan gila-gilaan terhadap listrik di kamarnya. Klo gw dalam sebulan bisa bayar listrik 100 ribu, mereka cuma bayar 30 ribu aja. Ncen ini suka kami ledek karena klo bilang nasi goreng, jadinya nasi goyeng
.
Ciput – Ncen – gw – Gebi – Novi
Di sini, kami juga berteman baik dengan para koas dan perawat. Awalnya, gw sempat khawatir ada slek dengan para koas di RSUD Arjawinangun. Tapi, gw inget banget kata-kata senior gw yang sebelumnya internship juga di RSUD Arjawinangun, untuk tidak mengganggap diri kita lebih baik dari mereka sedikitpun, dan bahwa yang terpenting adalah kesembuhan pasien. Poin itu benar-benar gw garis bawahi. Dan, pada kenyataannya, kami, para interns, alhamdulillah sejauh ini memiliki hubungan baik dengan mereka, bahkan sudah menjalin persahabatan dengan sebagian dari mereka
. Gw mendapatkan banyak bantuan dari mereka, dari mulai diberikan banyak informasi tentang RS dan kota Cirebon, sampai mendapatkan tumpangan gratis pasca jaga malam
dan rame-rame makan seafood bareng. Cuma sedihnya, baru juga sebentar bersahabat, sebagian dari mereka udah harus balik ke Jakarta karena masa koass di Cirebon dah selesai
. Thanks for all your kindness, guys. Kalian benar-benar mengajari gw, untuk tidak ragu-ragu berbuat baik kepada orang lain, karena perbuatan baik akan selalu dikenang
. Mudah-mudahan koass nya segera selesai, dan kita bisa segera jadi teman sejawat
.
Sebuah titel yang ternyata tidak mudah untuk dijalani.
Setelah mendapatkan nomor STR, kami akhirnya mendapatkan SIP internship.
Jaga ICU dan bangsal dilakukan bersama dokter organik. Kami jaga 2x/minggu.
Kamar gw, setelah dikunjungi orangtua. Jadi ada karpet, rak, TV, dan kulkas.
Akhirnya bisa renang lagi setelah 5 tahun ga pernah renang. Thanks a lot untuk Syifa yang udah beliin baju renang!
internship: sebuah media metamorfosa
13 Nov 2011 5 Comments
in becoming a doctor, life lesson, life story
Jadi ceritanya, gw sudah mulai intership di RSUD Arjawinangun, Cirebon. Empat bulan pertama gw ditempatkan di unit rawat inap dan rawat jalan dulu, sedangkan empat bulan berikutnya gw akan rolling ke IGD. Empat bulan terakhir baru gw ke Puskesmas Ciperna. Untuk minggu-minggu awal, gw dapat giliran di bagian bedah dulu.
Perawat yang ramah
Gw senang sekali karena perawat-perawat di RSUD ini sangat amat ramah dan welcome. Gw (yang ga tau apa-apa ini) diberi banyak penjelasan tentang kota Cirebon dan RS, bahkan sampai ada perawat yang bersedia menemani gw naik elf
.
Elep si elf
Ngomong-ngomong soal elf (klo orang sini bacanya elep
), gw sempat pulang-pergi kosan-RS dengan elf. Gw merasa perlu untuk bisa mandiri ke mana-mana (setidaknya ke RS tempat gw bekerja), jadi meskipun ada teman-teman yang bawa mobil pribadi (dan bisa ditebengin), gw tetap mencoba si elf
. Elf ini adalah angkutan umum yang banyak ditemukan di wilayah Jawa Barat (tapi tidak di Jakarta, makanya sepertinya elf ini adalah benda baru bagi sebagian temen-temen gw
). Apa sih yang menarik dari elf? Banyak
. Dari mulai menunggu dan memilih elf mana yang harus ditumpangi (seringkali tidak ada tulisan jurusan di elf itu, jadi cara untuk mengetahui jurusan elf itu adalah dengan mengkonfirmasi secara oral ke kenek/sopir atau bisa juga dengan melihat kode yang dibuat oleh tangan kenek/sopir), berdesak-desakan di dalam elf (satu buah kursi bisa diduduki oleh 2 orang, belum lagi klo ada kursi tambahan dan para penumpang yang terpaksa berdiri.. makanya susah banget untuk masuk dan keluar elf
), ditambah dengan debu-debu dan aroma-aromanya, dan yang paling parah, ketidakamanannya (elf dikenal banyak copet, jadi harus hati-hati terhadap benda berharga di dalam tas). Yeah, pertama kali gw naik elf, yang ada di pikiran gw pertama kali adalah: andai saja gw ada mobil pribadi, andai saja gw bisa menyetir dengan benar. Tapi, menit-menit berikutnya, tanpa gw duga, gw ‘menikmati’ perjalanan menggunakan elf ini. Entahlah, tapi gw jadi sadar, hey, inilah Indonesia! Di mana sebagian besar masyarakatnya memang menggunakan transportasi umum(seperti elf) untuk bepergian. Memang benar, lihatlah ke bawah, maka kau akan bersyukur. Saat gw melihat seorang ayah yang mengantar anak perempuannya sekolah naik elf (dan harus berdiri karena tidak mendapatkan kursi), gw bersyukur saat sekolah dulu gw bisa diantar orangtua naik mobil. Saat gw melihat seorang nenek, gw bersyukur nenek gw bisa ke mana-mana diantar anak-cucunya pake mobil.
Panasnya membara!!
Cirebon adalah kota yang sangat panas! Berkali-kali lipat panasnya dibandingkan Jakarta! Gw perlu payung untuk bisa berjalan-jalan di bawah sinar matahari Cirebon, terutama saat tengah hari. Setahun tinggal di sini gw harus siap-siap gosong..
Nasi jamblang
Makanan khas Cirebon (yang gw sudah coba) adalah nasi jamblang. Sebenarnya nasi jamblang adalah nasi putih biasa dengan lauk-pauk, tapi ciri khas makanan ini adalah alasnya yang menggunakan daun jati, porsi nasinya yang sedikit (bapak-bapak biasanya memesan 2-3 porsi nasi), dan sambalnya yang berupa potongan-potongan panjang cabe merah tanpa biji (sehingga tidak pedas sama sekali).
Bahasa Jawa >> Bahasa Sunda
Hal yang membahagiakan gw saat pertama kali mendapat kabar bahwa angkatan gw dapet internship di Jawa Barat adalah soal bahasa. Gw (yang kebetulan berdarah Sunda) pikir Jawa Barat adalah tanah di mana satu-satunya bahasa daerah yang dipakai adalah bahasa Sunda. Ternyata oh ternyata, hal ini tidak berlaku di Cirebon (yang gw baru ngeh secara geografi memang dekat sekali dengan Jawa Tengah), di mana sebagian besar penduduknya berbicara menggunakan bahasa Jawa. Gw mengalami kesulitan saat menggali riwayat penyakit pasien, karena yang gw dengar dari pasien hanyalah serentetan kata-kata yang tidak gw mengerti. Hufff. Sejauh ini gw cuma mengerti beberapa kosakata saja seperti nengkene dan nengkono hahaha, tapi gw harap tidak lama kemudian gw bisa memahami bahasa Jawa.
Tempat tinggal
Beberapa waktu lalu gw dan Gebi sempat terpikir untuk mengontrak sebuah rumah. Namun, karena berbagai pertimbangan (terutama karena alasan security) akhirnya kami memutuskan untuk tetap tinggal di kosan. Hanya saja, akhirnya kami berpisah kamar. Gw tetap di kamar B, dan Gebi pindah ke kamar A (yang sebelumnya ditempati oleh Vinda).
Kamar gw di sebelah kanan atas
Pendewasaan
Internship bagi gw bukan hanya sekedar magang di daerah selama 1 tahun. Well, I’m a complicated person, hehe. Actually…ini bukan soal RS tempat gw bekerja, bukan soal tempat tinggal, bukan soal teman-teman serombongan. Ini tentang gw sendiri, yang selama ini selalu takut menghadapi hidup (dan realita yang mengisinya), dan tiba-tiba dipaparkan kepada hal-hal baru yang, entah gw bisa atau tidak melewatinya, hehe. Yang jelas, di sini gw berusaha membunuh satu per satu rasa takut gw, kecemasan gw, dan ketidakyakinan gw akan kemampuan diri. Gw sadar sudah saatnya gw berdiri di atas kaki sendiri, dalam arti, setiap tantangan hidup memang untuk dihadapi, bukan untuk dihindari. Karena toh, lari tidak menjamin tantangan itu tidak akan datang lagi; lari hanya membuat jiwa kita kerdil. Dan gw ga mau.
Dan untuk melakukan itu semua, gw perlu motivasi yang amat besar. Dan sungguh, tidak ada motivasi yang lebih besar daripada pelukan-Nya. Setiap melangkah, terutama saat disertai rasa enggan (entah karena rasa takut atau rasa malas), ingatan bahwa setiap tindakan yang diniatkan untuk beribadah kepada-Nya akan menjadi bekal gw kelak, selalu menjadi penyembuh. Bahwa hal-hal terkecil sekalipun yang gw lakukan, akan berarti besar di mata-Nya. Bahwa setiap usaha gw membunuh setiap rasa takut adalah berarti di timbangan-Nya. Dan, di sini juga, gw kembali diingatkan, bahwa tidak ada (seorangpun!) yang bisa menjaga gw, kecuali Allah, dengan kekuatan-Nya yang
mencakup segala hal.
***
Satu tahun ke depan, mudah-mudahan bukan menjadi satu tahun yang sia-sia.
Satu tahun ke depan, mudah-mudahan menjadi satu tahun penuh pembelajaran, bukan hanya tentang bagaimana menjadi dokter Indonesia yang baik, tetapi juga tentang bagaimana menjadi manusia yang matang dan bijak.
first days in cirebon
05 Nov 2011 6 Comments
in becoming a doctor, life story
Tanggal 1 kemarin setelah melakukan briefing internship di Jl. Eijkmann, Bandung, gw dan rombongan Arjawinangun lainnya langsung menuju Cirebon. Gw diantar bokap dan Amin (yang mengalami mual hebat seperti gw di tengah jalan) naik mobil. Perjalanan yang diwarnai oleh hujan superrr lebat beberapa kali dan jalanan meliuk-liuk belok kanan-kiri-naik-turun yang luarrrr biasssa bikin gw mabok ini selesai dalam waktu 5 jam. Ffiuhhhh. Gw sampai di tempat tinggal gw dan teman-teman (Villa Indah Panembahan, Tegalsari, Plered) hampir jam 8 malam. Begitu sampai, barang-barang langsung diturunkan, dan ga lama kemudian, bokap dan Amin langsung pulang karena masih harus kembali ke Tasikmalaya. Untungnya ga lama kemudian, teman-teman gw pun datang
Sempet beli tahu sumedang. Nyam.
Ini kamar tidur gw, berdua dengan Gebi.
Jarak tempat tinggal kami ke RS Arjawinangun sebenarnya cukup jauh. Sekitar 10 menit via tol atau 30 menit naik kendaraan umum. Tapi atas berbagai pertimbangan, akhirnya kami memutuskan untuk tinggal bersama-sama di sini. Tempat tinggal kami yang sekarang berada di bagian belakang kompleks sehingga gw berinisiatif untuk pindah ke bagian depan, agar lebih mudah mencapai angkutan umum. Bulan depan Insya Allah gw akan pindah ke rumah kontrakan berisi 3 kamar yang letaknya di bagian depan kompleks Villa Indah Panembahan ini.
Mudah-mudahan setahun ke depan akan menyenangkan. Amiin!




























Recent Comments