dokter juga manusia!

Sejujurnya gw bukan orang yang pinter mengkritisi sesuatu, tetapi sekarang gw lagi prihatin banget sama dokter-dokter Indonesia yang seringkali dipersalahkan, yang seringkali tidak dimanusiakan, yang seringkali…ah, gw ga bisa berkata-kata lagi. Yang jelas: GW KESEL BANGET.

Sekarang ini lagi heboh pemberitaan media tentang tuduhan malpraktik kepada RSCM yang dilontarkan oleh karyawannya sendiri. Dan hey! Sumpah deh, gw pertama kali baca artikelnya aja udah langsung tau artikel itu banyak banget missing point-nya. Dan media dengan seenak jidatnya cuma menyorot itu dari satu sisi doank. Gimana itu semua ga bikin DARAH GW NAIK??

Sori, alih-alih bikin tulisan kritis yang berbobot, di sini mungkin gw cuma bakal maki-maki ga jelas. Cuma, profesi mana sih yang bisa tahan kalo terus-terusan ditekan seperti yang kerap terjadi belakangan ini? Klo mau men-judge dokter itu seperti apa sebenarnya, mending terjun dulu jadi dokter beneran deh, dan rasakan perjuangan dan penderitaan kami di dalamnya, demi menjadi seorang dokter. Dokter itu ga sama dengan profesi lainnya, men!

Ini ada cuplikan artikel di Kompasiana yang ditulis oleh dr. Pikasa Retsyah, yang gw rasa cukup merepresentatikan curhatan para dokter dan mahasiswa kedokteran.

Profesi Mulia, oleh dr. Pikasa Retsyah

Profesi kesehatan, adalah profesi yang sangat mulia. Profesi yang menurut banyak orang, diminati hanya oleh orang-orang kaya, yang sudah tidak berminat akan gaji dan harta duniawi, dan bertekad menghabiskan sisa hidupnya untuk kemanusiaan. Hanya sedikit manusia yang mampu benar-benar menjadi tenaga kesehatan, sesuai tuntutan profesi yang dianggap mulia itu, mungkin hanya satu di antara beberapa juta manusia yang sanggup.

Hanya sedikit manusia, yang mungkin mau membayar ratusan juta untuk masuk ke fakultas kedokteran, yang tidak berpikiran untuk mendapat pendapatan yang layak dengan biaya sekolahnya.

Hanya sedikit manusia, yang setelah masa kuliah yang panjang dan melelahkan secara fisik dan mental, bisa bersabar untuk tidak segera bekerja mencari nafkah karena direpotkan segala urusan birokrasi.

Hanya sedikit manusia, yang bisa tidak mengeluh, setelah lulus dari fakultas favorit dengan ujian masuk tersulit, tapi masih dianggap tidak kompeten dan masih harus melalui berbagai pembuktian kompetensi yang bukan hanya menghabiskan waktu yang tidak sebentar, tapi juga biaya yang tidak sedikit, sementara teman-teman SMA-nya dulu yang memilih jurusan yang ujian masuknya lebih mudah, sudah bekerja dan bisa dibilang lebih mapan.

Hanya sedikit manusia, yang mampu ditempatkan ke tempat antah berantah, dengan alasan kewajiban kemanusiaan, dengan gaji yang digembar-gemborkan besar (meskipun kenyataannya tidak sampai 30% yang menerima gaji sebesar itu) tapi disuruh berpuasa dulu karena gaji itu baru akan turun entah setelah bulan kesekian.

Hanya sedikit orang, yang mampu ikhlas menerima tudingan malpraktik, meskipun tidak ada yang pernah tahu seberapa berat dia bekerja tanpa tidur, sebelum akhirnya dia melakukan kesalahan yang mungkin sebenarnya manusiawi untuk seorang manusia biasa yang bisa lelah, tapi tidak boleh dilakukan seorang tenaga kesehatan yang haruslah seperti malaikat yang tanpa cela.

Hanya sedikit manusia, yang mampu menahan lelahnya dan dibangunkan tengah malam, karena setiap orang sakit, meskipun itu hanya gatal-gatal, adalah pasien darurat yang harus ditangani saat itu juga.

Hanya sedikit manusia, yang mampu bersabar saat menerima pasien, yang mungkin sudah membayar berpuluh-puluh atau bahkan ratusan juta ke pabrik rokok untuk membeli penyakit, tapi tidak mau mengeluarkan sepeser pun untuk membayar pengobatan, malah menuduh tenaga kesehatan itu adalah makhluk penghisap darah yang mencari keuntungan dari penderitaan orang lain, tanpa sadar pihak mana yang sebenarnya mengambil keuntungan dan membuat dia sakit seperti itu.

Hanya sedikit orang, yang bisa menerima keadilan media, dalam memberitakan kasus dugaan malpraktek secara besar-besaran, sementara saat teman sejawatnya meninggal tenggelam saat bertugas ke pedalaman, hanya ditulis di kolom kecil yang pasti tidak menarik perhatian.

Sedikit sekali orang yang mampu untuk menjadi tenaga kesehatan ideal di Indonesia dengan segala kondisi yang sudah saya paparkan tadi, tapi sayangnya, kebutuhan tenaga kesehatan di Indonesia sangat besar sehingga banyak orang berlomba-lomba ingin menjadi tenaga kesehatan, dan kaget begitu mengetahui konsekuensi seperti yang saya sebutkan di atas. Jadi bila Anda memutuskan ingin menjadi tenaga kesehatan, pastikan anda mampu menerima semua konsekuensi itu tanpa mengeluh. Semoga Indonesia bisa semakin baik di masa depan.

Semoga ke depannya media bisa lebih bijak dalam menyampaikan berita kepada masyarakat. Amin!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: