latest update

Kyaaaaaaaaa. Udah lama banget gw ga nulis blog ini.. >.< *elus-elus laptop* So, here I am, writing down the latest update from kandangkucing (baca: kamar kosan gw) di Cirebon. Yippie!

Sepertiga Kedua Internship

Sekarang gw sudah memasuki empat bulan kedua masa internship di Cirebon. Yeah, empat bulan di bangsal-poliklinik-ICU akhirnya selesai juga! Sekarang (kurang-lebih sudah 2 minggu) gw sudah pindah tempat dinas, yaitu IGD. Saat di awal internship awalnya gw pikir IGD akan sangat menakutkan buat gw (apalagi bloody show-nya), tapi agaknya kekhawatiran gw agak berlebihan. Bahkan, setelah dijalani, IGD lebih mengasyikkan. Kenapa? Selain karena jam kerjanya jauh lebih manusiawi daripada jam kerja di bangsal-poli-ICU, di IGD kemampuan kita sebagai seorang dokter dalam menegakkan diagnosis dan memilih terapi rasanya lebih terasah. IGD juga salah satu tempat yang bisa membuat gw bersyukur setiap harinya. Karena (meskipun sekarang gw lagi sakit), setidaknya gw ga berdarah-darah karena kecelakaan lalu lintas, ga kena infeksi yang udah sistemik menjalar ke seluruh tubuh gw (sepsis), orangtua gw ga mengalami sakit berat seperti gagal jantung atau stroke, dll.

Friksi dan Manajemen Emosi

Pada dasarnya gw adalah makhluk pecinta damai *halah*. Duh, alergi deh sama yang namanya musuhan apalagi perang. Selama ini gw sangat menjunjung tinggi yang namanya: hidup berdampingan satu sama lain, saling menghormati eksistensi masing-masing, saling menyayangi, dan semua nilai-nilai luhur yang diajarkan oleh guru PPKn kita saat masih sekolah. Tapi, belakangan ini gw sadar, ga selamanya keadaan akan seperti itu. Adanya interaksi antara dua (atau lebih) pihak memang berpotensi untuk menimbulkan friksi, dan friksi tersebut sejatinya adalah hal yang wajar terjadi. Belakangan ini gw terlibat dalam beberapa friksi yang membuat gw kini melihat friksi dari kacamata yang berbeda; bukan lagi sebagai hal yang terlarang dan tabu, tapi sebagai sesuatu yang memang menjadi bagian dari hidup kita, khususnya dalam kehidupan bermasayarakat.

Ada kalanya friksi itu hanya melibatkan gw dan seseorang yang lain. Namun, kadangkala friksi terjadi dalam skala yang lebih besar, melibatkan kelompok-kelompok. Gw, sebenarnya lebih cenderung bersikap ‘kalo bisa damai, ngapain harus berantem’. Sehingga, beberapa kali gw dinilai orang lain sebagai orang yang terlalu berpikir positif kepada orang lain (yang bisa jadi, ternyata ‘jahat’). Akan tetapi, saat gw sampai pada titik di mana gw merasa diperlakukan seeenaknya atau ‘dijajah’, gw akan memberontak sekuat mungkin. Bahkan, respons emosional gw terhadap -katakanlah- ketidakadilan itu, bisa jadi lebih ‘hebat’ (baca: ganas) daripada orang lain. Sampai-sampai, kadang-kadang gw menyesal sendiri, ya ampun kok gw bisa sejahat itu sih sama orang lain.. Dan bagi gw pribadi, perasaan bersalah, adalah perasaan termenyakitkan yang bisa manusia rasakan. Sehingga, gw lantas belajar, bahwa, sometimes, when you’re mad, you have the right to be mad, but you don’t have the right to be cruel.

Jangan Menjadi (Dokter) Naif

Suatu hari di poliklinik Obsgyn, di mana gw belajar (hampir secara autodidak) untuk melakukan USG, terutama kepada pasien kebidanan, seorang perempuan muda datang dengan keluhan terlambat datang bulan 2 bulan terakhir. Perempuan ini menyangkal sudah menikah ataupun melakukan hubungan seksual. Namun, saat gw melakukan pemeriksaan USG padanya, gw melihat ada janin di dalam rahimnya. Hasil tes urine-nya pun positif. Tapi si pasien tetap menyangkal mati-matian, meski gw sudah mencoba berbicara dengannya untuk bersikap terbuka kepada gw. Sikap pasien yang defensif seperti itu awalnya sempat memunculkan sedikit keraguan dalam hati gw. Apakah pasien yang berbohong, ataukah pemeriksaan gw yang salah. Padahal sudah jelas jawabannya. Untungnya dokter spesialis Obsgyn segera datang, dan langsung ‘menembak’ si pasien: “Ga mungkin Mbak hamil klo ga begituan. Emangnya Mbak Maryam?”

Kasus kedua, terjadi di IGD. Seorang perempuan muda datang dengan berlumuran darah di bagian wajah. Gw perhatikan, pipi kirinya robek sangat lebar (nyaris seperti fillet pipi); telinga kirinya bahkan sampai terputus. Ia masih sadar, tapi tampak sangat kesakitan sehingga tidak memungkinkan gw untuk mengambil keterangan langsung darinya. Si pasien datang ditemani seorang laki-laki bertato yang gw tebak sebagai suaminya. Menurut suaminya, istrinya tiba-tiba terpeleset dan kepalanya menyundul sebuah meja yang terdapat golok di atasnya. Gw merasa ada hal yang ganjil, tapi gw berusaha tepis dengan bertanya, “Benar bukan sengaja kan?” Sang suami mengiyakan, dan gw kembali melanjutkan pemeriksaan sambil mengisi status. Selang setengah jam kemudian, seorang polisi datang beserta serombongan orang yang ternyata keluarga si pasien. Info yang didapat, ternyata si suami berniat menyembelih si istri dengan sebilah golok.

Dua kejadian itu berhasil membuat gw merasa bukan saja naif, tetapi juga goblok. Dokter memang diajarkan untuk mengambil keputusan medis berdasarkan keterangan subjektif (melalui anamnesis) dan bukti-bukti objektif (melalui pemeriksaan fisik dan penunjang), tetapi saat terdapat ketidaksesuaian di antara keduanya, bukti objektif punya kekuatan lebih (terutama pada pasien dengan tingkat edukasi yang rendah). Ternyata masih banyak sekali yang harus gw pelajari..

Serangan Tomcat

Ventilasi kamar kosan gw memang tidak tertutup rapat, sehingga di malam hari, kamar gw sering kedatangan serangga-serangga, yang sebagian besar berkumpul di daerah lampu. Depan kamar kosan gw memang lapangan rumput yang cukup luas, sehingga bisa jadi habitat serangga. Awalnya, gw tidak merasakan efek negatif selain lantai kamar gw menjadi mudah kotor. Tapi, suatu pagi, saat gw bangun tidur, gw merasa punggung tangan, lengan, dan leher gw sangat gatal dan terasa panas. Bahkan lama-lama muncul lenting-lenting. Gw menduga kulit gw terkena gigitan serangga, yang akhirnya gw garuk saat gw sedang tertidur. Tapi, saat itu gw belum tahu serangga mana yang bisa mengganggu kualitas hidup gw selama seminggu kemarin. Karena rasa gatal dan panas yang cukup hebat itu (ditambah mulai ada infeksi sekunder karena ga sengaja tergaruk), gw akhirnya menggunakan krim steroid-antibiotik, selain menggunakan antihistamin. Barulah, setelah mulai membaik, mulai muncul BM tentang serangan serangga Tomcat yang ternyata oh ternyata, bentuknya mirip banget dengan serangga yang sering main ke kamar gw.. Gejalanya juga mirip sekali.. Dari awalnya kaget, gw lalu lemas.. Gw baru tau klo serangga mirip semut berwarna hitam-oranye itu ternyata punya racun yang sekaligus iritan membahayakan bagi kulit. Tapi sudah terlambat, racun Tomcat sudah mengenai kulit gw, dan sekarang, meski sudah sembuh, tapi meninggalkan bekas kehitaman.😦

Pingsan Perdana

Sejak SD, klo ikut upacara bendera, gw sering black-out; tiba-tiba pandangan berubah warna menjadi abu-abu, lalu mulai menggelap, keluar keringat dingin, sesak, dan wajah menjadi pucat. Tapi tidak pernah sampai pingsan. Guru-guru gw selalu siaga membawa gw ke ruangan guru untuk rebahan, sementara teman-teman yang lain tetap mengikuti upacara. Di SMA, gw juga pernah black-out. Waktu itu gw sedang mengikuti pelajaran Biologi, sewaktu tiba-tiba nyeri karena dysmenorrhea menyerang. Nyerinya sangat. Keringat dingin gw mulai keluar, kepala gw pening, dan wajah gw memucat. Guru Biologi gw menyadari hal itu, dan mempersilakan gw berbaring di mushola. Saat kuliah, gw juga pernah black-out. Waktu itu gw sedang mengikuti praktikum Histologi, di mana kita semua diharapkan untuk mempelajari dan menggambarkan jaringan-jaringan tubuh manusia. Gw, yang juga sedang kesakitan karena dysmenorrhea, hanya bisa menelungkupkan wajah ke lengan, menahan sakit. Pandangan gw yang kabur, dan sensasi-sensasi khas black-out, ga memungkinkan gw untuk menyelesaikan tugas yang diminta. Sampai praktikum selesai, kepala gw terbenam di lengan. Sampai akhirnya sahabat gw, Temoy, memanggil gw. Melihat wajah gw yang pucat dan menahan sakit, Temoy lalu menemani gw membeli obat penghilang nyeri. Semua black-out itu tidak pernah berujung pingsan betulan, sampai tadi dini hari.

Kemarin malam adalah giliran gw dan Wida untuk tugas jaga malam di IGD. Kondisi badan gw memang sedang ga fit. Meriang, ingusan, lemas. Apalagi seharian sebelum jaga gw ga makan nasi sama sekali; gw hanya makan 2 tangkup roti dan sebungkus popmie (Gw emang lagi krisis nafsu makan akhir-akhir ini, makan nasi paling cuma sekali sehari, itupun hanya setengah piring. Sisanya, kalau lapar, gw hanya makan roti). Malam itu sebenarnya cukup sepi, tapi gw ga bisa tidur. Kamar perawat (yang malam itu kami jadikan tempat beristirahat) terlalu dingin. Gw yang memang tidak tahan dingin (apalagi memang sedang sakit) makin menggigil; jaket yang gw pakai ternyata ga berhasil menahan dingin. Hidung gw malah tersumbat total, sehingga gw tidak bisa bernapas lewat hidung. Argh. Sekitar pukul setengah 4, ada panggilan karena ada pasien baru. Gw dan Wida lantas bangun dan memeriksa pasien yang ternyata korban kecelakaan lalu-lintas itu. Gw baru saja selesai meng-anamnesis istri pasien, saat kepala gw mulai pening. Pening yang berbeda, bukan pening karena kurang tidur. Insting gw mengatakan gw harus duduk, maka gw meninggalkan Wida yang belum selesai melakukan pemeriksaan fisik. Gw lalu berjalan ke meja dokter, dan duduk. Kepala gw tambah pusing. Seorang perawat, Mbak Mei, yang sedang membaca-baca status, tiba-tiba bertanya, “Dokter kenapa?” Gw jawab, “Pusing..” Lalu badan gw terasa semakin lemas, dan gw pandangan gw semakin gelap. Gw masih melihat dengan samar-samar, Mbak Mei mendekat ke arah gw, memeluk gw, sehingga gw tidak jatuh ke lantai. Gw masih mendengar sayup-sayup suara gredek-gredek roda bed pasien didorong oleh portir. Sampai akhirnya pandangan gw semakin gelap dan badan gw tidak bisa lagi digerakkan. Saat membuka mata, gw sedang berbaring di kamar perawat. Dan yang pertama gw rasakan adalah…malu. Malu karena sudah membuat kehebohan dan sudah merepotkan. Masa dokter malah jadi pasien? >.< Gw lalu mendapat teh manis hangat🙂. Para perawat (yang baik hati itu) menyarankan untuk lanjut beristirahat saja, tapi…berhubung rasanya magabut klo ga balik jaga, akhirnya sekitar sejam kemudian, setelah solat Subuh, gw kembali melanjutkan tugas jaga.🙂 Semoga tidak terulang lagi, hehe..

1 Comment (+add yours?)

  1. prasantee
    May 24, 2013 @ 00:14:51

    wah, lagi cari-cari kost di Cirebon untuk internship, nemu blog kk tentang internship. Numpang lewat, senior.. Doakan saya dan teman-teman yang internship di Cirebon mulai akhir Mei ini ya. *lanjut cari hunian*

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: