kebaikan sabar

Semoga postingan ini bukan termasuk ghibah, apalagi sekarang sedang bulan Ramadhan. Postingan ini cuma sedikit hikmah yang bisa gw petik dari bulan istimewa ini, di mana hawa nafsu adalah hal yang harus dikendalikan, selain rasa lapar dan haus.

Katakanlah gw sensitif, atau terlalu perasa. Tapi rasanya -sejauh yang gw ingat- sejak kecil gw memang berteman dekat dengan kepekaan. Atau setidaknya, berbagai faktor di masa lalu membentuk gw seperti yang sekarang ini.

Kepekaan bisa luas spektrumnya. Bisa berarti tidak mengatakan sesuatu yang kurang santun sehingga menyakitkan pendengarnya, bisa berarti tidak menyusahkan orang lain dengan urusan pribadi yang masih bisa ditanggulangi sendiri, dan banyak makna lainnya.

Kepekaan ini kadang-kadang melahirkan batas-batas toleransi yang sempit, terutama dalam kehidupan sosial.  Apalagi setelah gw tumbuh besar dan bertemu bahkan berinteraksi dengan banyak sekali orang, yang tentu memiliki budaya dan norma yang berlainan. Batas-batas toleransi itu seringkali bergesekan dengan batas-batas yang dimiliki orang lain.

Sebagai contoh, lingkungan gw (mungkin karena gw berasal dari suku Sunda) membuat gw terbiasa berkomunikasi dengan orang lain dengan tingkat kesantunan tertentu. Nah, tiba-tiba gw berinteraksi dengan beberapa orang yang tiap kali berbicara, gw pengen banget bilang ke mereka, “Ya biasa aja kali ngomongnya, ga usah nyolot gitu.” sampai rasanya gw pengen balik memuntahkan kata-kata yang tidak enak didengar. Contoh lain, ada teman yang orangnya emang cuek, di mana dia sering meminta bahkan memaksa gw melakukan hal-hal yang sebenarnya enggan gw lakukan, tapi karena gw orangnya ga enak nolak *fiuh*, jadi akhirnya gw kerjakan. Sementara pas sekali waktu gw meminta dia melakukan sesuatu, dia menolaknya karena merasa enggan, dan akhirnya gw stop sampai sana, karena gw juga orangnya ga enakan buat maksa *fiuh*. Yang tersisa di hati gw cuma pertanyaan, “Kok gitu ya?” dan perasaan ngenes, membandingkan yang sudah gw lakukan kepada dia dengan yang dia lakukan kepada gw.

Gw bukan pengen ngobrolin keburukan temen-temen gw di sini. Toh, disadari atau ga, gw juga pasti pernah melakukan hal yang kurang berkenan di hati orang lain. Yang ingin gw bilang di sini adalah, bahwa kedewasaan seseorang salah satunya dilihat dari kemampuannya untuk menelan apa-apa yang mengganjal, atau melapangkan hal-hal yang sempit, atau merelakan koma menjadi titik. Tidak mesti segala sesuatunya sesuai dengan yang kita mau untuk hidup bahagia.

Ada kalanya kita ingin membalas perlakuan buruk orang lain kepada kita. Berkaitan dengan ini, di dalam Al-Quran pernah disebutkan bahwa apabila kita dianiaya, kita berhak untuk membalas sebesar yang kita terima. Tapi kalimat tersebut ditutup dengan, namun apabila kita memilih untuk bersabar, itulah yang lebih utama. Lagipula, jika kita membalas keburukan orang lain, memangnya kita bisa memastikan balasan itu sama buruknya dan tidak lebih buruk? Juga, kadang-kadang dalam hati, kita masih ingin berbuat tidak sabar, setidaknya dengan tujuan untuk menunjukkan kepada orang lain bahwa cara perlakuannya salah kepada kita. Padahal, sesungguhnya kesabaran yang kecil di mata manusia, bisa jadi besar di mata-Nya. Hal-hal yang menuju kepada kemuliaan toh tidak ada yang mudah.

Gw jadi teringat kutipan dari sebuah buku tulisan Bapak Quraish Shihab. Di sana terdapat nasihat Luqman kepada anaknya, “Hai anakku, tidak ada baiknya mempelajari apa yang belum engkau ketahui, selama engkau belum memanfaatkan apa yang telah engkau ketahui. Ini seperti pengumpul kayu yang tak mampu memikulnya tetapi ia menambah lagi kayu yang lain untuk dipikulnya.” Kita tahu sabar itu adalah perbuatan baik, bahkan mulia. Kenapa tidak dipraktekkan? Lagipula, masa iya riak-riak kecil masih menenggelamkan kita. Setiap waktu kita harus naik tingkat, bukan?

Wallahu’alam.

***

“Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar?” QS Al-Furqan (25): 20

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: