self-manage: life and lifeafter

Gw adalah orang yang sukaaaaaaa banget me-manage sesuatu. Pada intinya gw menikmati rangkaian proses dari menentukan goalnya apa, sampai merancang setiap langkah untuk mencapai goal tersebut. Makanya, waktu gw pernah bekerja sebagai asisten Manajer Ventura, overall gw menikmati, dan gw sempat ingin sekolah MARS, hehe. Gw juga menikmati peran gw sebagai manajer diet Beruang. Waktu itu gw selalu menghitung jumlah kebutuhan kalori Beruang, menghitung jumlah kalori dari makanan yang disantap Beruang, membuat target penurunan berat badan dan tekanan darah Beruang, juga melakukan pengukuran secara berkala. Gw juga selalu membuat rencana jangka panjang hidup gw (disandingkan dengan rencana Beruang), dalam garis timeline, dari tahun ke tahun. Merencanakan sesuatu itu selalu menyenangkan.πŸ™‚

Gw termasuk orang yang strict to the rules. Ga segitunya sih, tapi cenderung ke arah sana. Klo gw udah punya tujuan, biasanya gw fokus. Makanya gw cenderung ga bisa multitasking (padahal cewe-cewe kebanyakan pada bisa). Dan klo udah merancang sesuatu, gw juga akan memikirkan setiap langkah untuk mencapai hal itu. Gw orang yang mau semuanya serba terukur, jelas, dan pasti. Ini yang dulu suka jadi pemicu berantem gw sama Beruang, haha. Beruang adalah orang yang sangat simpel dan fleksibel. Sementara gw orang yang kompleks banget dan cenderung kaku. Gw selalu keukeuh bahwa segala sesuatu itu hasil akhirnya tergantung bagaimana kita merencanakannya sejak awal. Sementara menurut Beruang, hidup itu ga bisa saklek, harus selalu ada ruang untuk hal-hal yang ga bisa diprediksi. Siapa yang salah? Ga ada. Dua-duanya benar; tinggal gimana kita me-mix kedua pandangan itu.πŸ™‚

Nah, akhir-akhir ini, gw terpikir sesuatu, yang membuat gw jadi malu sendiri. Gw suka banget manajerial, tapi, sudahkah gw bikin planning -step by step, dan mematuhinya- untuk selamat di akhirat? Selama ini gw suka sebel klo pas sekolah atau kuliah dulu, terus ikut mentoring yang nyuruh kita untuk mencatat ibadah keseharian kita. Yang ada di pikiran gw waktu itu, ibadah gw ga akan pure niatnya karena Allah, klo ada checklist bikinan manusia. Tapi, sekarang, dipikir-pikir, pada akhirnya di akhirat nanti kita akan dikasih checklist juga kok, tentang apa-apa aja yang udah dilakukan di dunia, apa-apa aja yang udah ditinggalkan, dan lain-lain. Memang ga harus bikin algoritma di atas kertas untuk bisa masuk surga. Yang penting adalah kita tau bahwa selamat di akhirat juga perlu direncanakan sejak masih di dunia, yang kemudian ditindaklanjuti dengan usaha dan doa. Ga asal bangun tidur dan tidur lagi tanpa membawa misi menabung pahala dan mengurangi dosa.πŸ™‚

Bismillah. To Allah is the destination.πŸ™‚ Kita bisa!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: