are you home?

Kata orang, sebuah hubungan itu ibarat rumah. Saat kita menemukan ada lampu yang mati, kita ga lantas membeli rumah baru. Lampunya yang harus diganti. Well, entah kenapa gw suka banget sama perumpamaan ini.

Saat kita memulai hubungan baru dengan seseorang, kita seperti menempati rumah baru. Segalanya (masih) sempurna. Dindingnya bersih, lantainya mengkilap, perabotannya lengkap. Tapi, seiring berjalannya waktu, akan ada perubahan-perubahan yang terjadi, dan ga mungkin dihindari. Lambat laun akan ada lampu yang mati, lantai yang berdebu, cat yang mengelupas. Bahkan bisa saja akan ada piring yang pecah, entah oleh kita atau dia, entah sengaja atau tidak. Mungkin juga gentingnya bocor, tanaman di halaman mati, dan sebagainya.

Apakah itu tanda-tanda bahwa rumah itu tidak layak huni lagi? Apakah serta-merta kita harus mencari rumah baru yang lebih bagus? Seringkali, itu yang kita pikirkan saat kita dihadapkan pada keruwetan sebuah hubungan. When everything went wrong.

Tapi, faktanya, things WILL go wrong if we don’t make it right. Lampu akan mati, kalau kita ga menggantinya saat lampu itu meredup. Lantai akan berdebu kalau kita ga rutin menyapu dan mengepelnya. Tanaman akan mati kalau kita ga menyiramnya. Begitu juga dengan hubungan, yang akan mati dengan sendirinya, kalau kita ga memeliharanya dengan baik.

Dan, upaya pemeliharaan itu tentu harus dilakukan oleh kedua pihak. Mustahil hanya satu pihak yang berusaha. Bagaimanapun juga sebuah hubungan dihuni oleh dua pihak, yang saling membutuhkan satu sama lain.

Hubungan itu media untuk belajar. Saat kita masuk ke dalamnya untuk pertama kali, katakanlah kita adalah seseorang dengan kepribadian X, dan dia adalah Y. Selama menjalani hubungan itu, tidak mungkin kita tetap menjadi orang yang sama. Bahkan, tidak boleh. Hubungan yang baik, harus menjadi media yang baik pula untuk kita memperbaiki diri, untuk menambah yang kurang, dan mengurangi yang lebih dari diri kita. Hubungan yang baik, membuat kita menjadi pribadi yang lebih baik. Termasuk, menjadi pasangan yang lebih baik. Jadi, kita bukan hanya akan tetap menjadi X, tetapi X+A+B-C-D. Dan dia mungkin menjadi Y+C+E-B-F. We are still the X and Y, but with some positive addition and reduction🙂.

Jadi, saat kamu mendapatkan rumah hunian kamu dan pasanganmu sedang perlu perbaikan di sana-sini, tanyakanlah ke hati masing-masing. Apakah kalian masih mau menghuni rumah yang sama? Apakah kalian mau bersama-sama memperbaikinya?

Itu yang gw pahami🙂.

***

Several days after he said, “I need a woman to take care of me, this messy one. And I hope it’s you..”

Boom! This sentence meant more when it was a not-romantic-at-all guy who talked!🙂

2 Comments (+add yours?)

  1. nadiafriza
    Jan 31, 2013 @ 23:58:22

    Nangis deh nief baca nya. Sambil proyeksi sih soalnya hehe. Hope he’s your one ya🙂

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: