larik qanaah ilalang

Bahagia itu sederhana. Sesederhana ilalang yang bersyukur dirinya ilalang. Sesederhana ilalang yang tak (lagi) bertanya, mengapa ia bukan cemara yang menjulang. Atau mengapa ia bukan beringin yang rindang.

Dewasa itu menerima. Seperti ilalang yang (kini) menerima kehadiran (sekedar) belalang. Seperti ilalang yang tak (lagi) kecewa karena ia bukanlah rasamala tempat elang bersarang.

Ilalang telah mengerti, bahwa di mana kini ia berada, menjadi apa ia tercipta, adalah kebaikan yang amat besar dari-Nya. Ilalang telah mengerti, bahwa merasa cukup adalah kebahagiaan yang sebenarnya.

Maka ia tak lagi malu bercermin pada bulir-bulir embun yang kerap menyapa. Tak lagi merasa bukan siapa-siapa semesta. Bukankah tak semua makhluk sanggup menjadi seperti dirinya?

Ilalang bahkan kini bersukacita, pada cemara yang anggun menjulang, juga pada beringin yang rimbun meneduhkan. Pada rasamala, ilalang bahkan berdendang, menemani elang menyusun peraduan.

Ah, betapa ilalang telah mengarifi. Hikmat hidup tak pernah terletak pada menjadi apa ia. Tapi menjadi ilalang sebaik apa dirinya; semulia apa hidupnya. Bukankah padang nirwana yang dijanjikan Tuhan-nya tak mengenal apakah ia dahulu bertumbuh menjadi ilalang atau eboni?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: