tentang memilih

“Akhirnyaaa gue mengerti juga.”

Pernah ga sih merasakan momen itu? Momen di mana akhirnya, kita menemukan jawaban yang melegakan atas pertanyaan-pertanyaan yang selama ini amat sangat mengganggu, jawaban yang menenangkan atas kebingungan yang selama ini menyengsarakan?

Awal Juni kemarin gue baru aja balik dari PTT. Tentu saja dengan membawa segudang rencana akan melakukan apa setelahnya. Tanpa sama sekali menduga, bahwa skenario tunggal di kepala gue bisa mendadak berubah jadi persimpangan yang nyaris bikin gila.

Setahun menjalani kehidupan PTT yang ibarat jalan lurus tanpa percabangan bermakna, membuat gue gelagapan saat dilempar kembali kepada realita di mana kita harus mampu berhadapan dengan berbagai dilema. Ini yang bikin gue sempat galau level dewa dalam waktu 2 bulan ini.

Pada dasarnya gue orang yang ingin semuanya serba jelas dan terukur, dan merasa sangat ga nyaman berada dalam situasi yang gue ga punya kendali sama sekali di dalamnya. Tentu gue sadar bahwa kita hanyalah manusia biasa yang ga punya kemampuan mengontrol sepenuhnya, tapi gue percaya setidaknya kita harus punya rencana. Dan ketika rencana yang sudah disusun sedemikian rupa mendadak porak-poranda, serta-merta dunia gue ikut jungkir-balik.

Gue orang yang cenderung ingin semuanya sempurna, dan terlalu takut membuat kesalahan. Sehingga, saat tiba-tiba gue harus membuat keputusan di sebuah persimpangan tanpa cukup tanda, gue sangat amat kebingungan. Gue hanya bisa menghentikan langkah sambil menyerapahi keadaan. Gue benci setengah mati setiap kali gue merasa gamang mesti ke mana dan ga tahu harus berbuat apa. Gue takut salah menentukan pilihan, takut pilihan gue ternyata tidak berjalan sesuai harapan, takut segala upaya gue di sana terbuang percuma.

Gue takut kecewa.

Persimpangan hidup bisa tentang apapun. Dari mulai perjalanan karir, hingga urusan hendak menitipkan hati kepada siapa. Atau, paling tidak, hendak memberikan waktu kita pada apa dan kepada siapa.

Kadangkala, kita menemukan persimpangan justru di tempat dan waktu yang sama sekali tidak kita duga. Jalanan yang kita yakini benar akan lurus-lurus saja, rupanya bercabang dua atau tiga. Dan hidup rupanya bukan sekedar perihal memilih yang baik dan meninggalkan yang buruk, tapi juga perihal menjatuhkan pilihan di antara hal-hal yang sama-sama (tampak) baik. Mungkin Tuhan ingin hidup kita sedikit lebih bervariasi, atau barangkali Tuhan sedang ingin membercandai kita saja.

Atau mungkin, Tuhan hanya ingin kita bertambah sedikit lebih bijak, ingin kita belajar sedikit lebih banyak. Bahwa di setiap persimpangan yang kita temui, Tuhan ingin melatih kita menundukkan hati, ingin kita mengasah keikhlasan dalam diri.

Tuhan ingin kita mengerti, bahwa urusan memilih tidak berhenti sampai di menimbang dan membandingkan. Kebijaksanaan dalam memilih juga terletak pada keikhlasan setelah memutuskan. Keikhlasan dalam menanggalkan seluruh preference personal kita, dan menyerahkannya kepada Tuhan. Termasuk menitipkan asa, juga kekhawatiran, hanya kepada-Nya. Melucuti seluruh emosi yang terlibat, dan menyediakan cukup ruang pasrah di antara padatnya harapan.

Semua itu tidak berarti menghilangkan atau menyunat kesungguhan hati dalam menetapkan pilihan. Bukan pula setengah hati dalam berikhtiar dan berdoa atas terwujudnya harapan. Karena sejatinya, memilih tak akan pernah mungkin dilakukan oleh hati yang terbagi. Memilih memerlukan bekal tekad bulat dan kesungguhan.

Melainkan, semata karena ketundukan hati seorang makhluk kepada Tuhan. Semata karena lahirnya kesadaran, bahwa seorang manusia tak pernah cukup punya pengetahuan tentang masa depan, tentang apa yang kelak menjadi kebaikan dan keburukan. Semata karena rasa aman dan damai yang akhirnya dirasakan, karena hidup kita dalam genggaman tangan yang paling tepat. Semata karena kita sadar, bahkan seorang manusia selayaknya memohon perlindungan dari dirinya sendiri, dari berbagai kecenderungan tanpa cukup pengetahuan dan kebijaksanaan.

Semata, karena rasa syukur yang akhirnya terpanjatkan,  karena Tuhan-lah yang mengendalikan kehidupan.

1 Comment (+add yours?)

  1. jasmine
    Dec 08, 2014 @ 05:44:25

    Kak, kuliah di kedokteran itu sibuk bget gk siih hrus begadang2 tiap hari? Jujur aku lagi galau nih kak nyari jurusan yg tepat, ak gk mau belajar itu harus mati2 an yg aku mau bljr ny slow aja tpi nyampe.
    Makasih, salam kenal kak 😘

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: