lagi bosen ngedisertasi (2)

Ada masa di mana gue merasa belum waktunya gue menikah (apalagi punya anak). Ingin, tapi belum sepenuhnya ingin. Bukan hanya belum ingin, tapi juga merasa belum siap. Merasa gue masih jauuuh dari titik itu. Sehingga gue tidak banyak terpengaruh dan tidak lantas merasa insecure oleh banyaknya undangan pernikahan yang datang atau kabar kelahiran buah hati teman-teman. Masa di mana gue merasa masih perlu banyak berbenah diri, sekaligus masih ingin merdeka mewujudkan satu per satu personal goal dalam bucket list gue. Mengabdi sebagai dokter PTT di sebuah daerah terpencil di luar pulau Jawa, bekerja di rumah sakit swasta khusus anak di Jakarta, menuntut ilmu kedokteran di luar Indonesia, dan traveling di Eropa. Alhamdulillah, dengan izin Allah, satu demi satu mimpi-mimpi absurd itu terealisasi.

Lalu, setelahnya, ada masa di mana gue perlahan mulai mengerti bahwa ada banyak kebaikan di dalam sebuah pernikahan. Ada banyak bentuk ibadah yang hanya bisa dilakukan oleh mereka yang menikah. Masa di mana gue mulai rutin berdoa setiap selepas shalat, agar dikaruniai seorang suami yang salih. Masa di mana gue sungguh-sungguh berdoa, meminta kepada-Nya, agar gue diberikan seorang laki-laki terbaik dari sisi-Nya. Yang, dengan izin-Nya, mampu membimbing gue hingga jannah-Nya. Seorang laki-laki yang taat dan hatinya senantiasa lekat kepada Tuhannya. Yang baik dunia dan akhiratnya. Yang baik agamanya dan mulia akhlaknya. Yang hanya sibuk dengan hal-hal yang baik. Yang amanah, yang bertanggung jawab, yang setia. Yang benar-benar menyayangi gue apa adanya sebagai seorang hanif dengan segala kekurangan dan kelebihan gue. Namun di saat yang bersamaan, menuntun dan mendorong gue menjadi seorang hanif versi terbaik.

Namun, setelahnya, ada masa di mana gue sadar, bahwa doa gue selama ini tidak sempurna. Bahkan gue merasa, betapa egois gue dengan doa-doa gue tadi. Gue begitu terpusat pada kebutuhan gue sendiri. Gue tanpa henti berdoa memohon karunia pasangan hidup dengan sederet kualitas baik yang gue inginkan, akan tetapi gue lupa untuk berdoa menjadi seorang istri dengan kualitas serupa. Gue lupa berdoa agar Allah senantiasa memudahkan gue menjadi seorang istri yang amanah, yang patuh, yang menjaga kehormatan. Gue lupa memohon kepada-Nya agar gue senantiasa menjadi seorang istri yang menyenangkan, yang penuh kasih sayang, yang mampu menjadi penenang dan penghilang lelah. Gue lupa berdoa agar kelak gue dijadikan-Nya seorang istri yang senantiasa mencintai, mendampingi dan mensyukuri suami dengan segala keterbatasannya.

Gue lupa.

London, June 14th 2016, 8:34 p.m

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: